korban penculikan
Profile Korban
Buku
Lain-lain

tombol.gif
penculikan
Untitled Document
BERITA      
 
KONTRAS BELUM BERTEMU HERMAN HENDRAWAN
Sumber: KOMPAS Tanggal:02 Agt 1998

Jakarta, Kompas
Anggota Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Mugiyanto, yang kini berada di Davao, Filipina Selatan, sampai Sabtu (1/8) petang belum dapat menemui Herman Hendrawan. Mugiyanto tidak diizinkan untuk bertemu oleh Konsulat Jenderal Indonesia di Davao, karena ia tidak membawa surat kuasa dari orangtua Herman.

Koordinator Kontras Munir kepada Kompas, di Jakarta mengatakan, Mugiyanto sempat meminta izin kepada Konjen Indonesia di Davao agar bisa menemui Herman Hendrawan. "Karena tak membawa surat kuasa, dia tidak diizinkan menemui Herman. Hari ini (Sabtu - Red) Dadang Trisasongko, anggota Kontras lainnya, sudah menyusul ke Filipina,"

ujarnya. Dan, dijadwalkan, anggota Kontras akan menemui Herman, Minggu (2/8)ini setelah anggota Kontras yang lain datang.

Dadang, lanjut Munir, sudah dibekali surat kuasa dari orangtua Herman Hendrawan. "Tetapi surat kuasa yang dibawa itu, adalah dari orangtua Herman Hendrawan yang mahasiswa dari Universitas Airlangga (Surabaya) yang hilang diculik sejak 12 Maret 1998. Jika benar yang di Davao itu Herman Hendrawan yang kami (Kontras) cari, dan ia

bersedia pulang ke Indonesia, maka langsung diajak,"ujarnya lagi.

Munir mengatakan, sebenarnya ia ragu Herman Hendrawan yang berada di Davao adalah korban penculikan seperti yang dilaporkan pada Kontras. Walaupun demikian, jati diri orang itu tetap perlu ditelusuri, sebab terkesan misterius. Apalagi, ia pun bisa berkisah

tentang penculikan yang menimpanya mirip dengan cerita penculikan Herman Hendrawan dari Unair. "Herman Hendrawan di Davao itu, sesuai dengan pembicaraan

lewat telepon, berasal dari Tasikmalaya. Sedang Herman Hendrawan yang kami (Kontras) cari, berasal dari Bangka (Sumatera Selatan). Namun siapa pun dia, perlu dicek," papar Munir lagi.

Bantuan Interpol
Sementara Kapolri Letjen (Pol) Roesmanhadi mengungkapkan, Polri meminta bantuan Interpol Filipina untuk memeriksa ciri-ciri Herman Hendrawan yang diduga sebagai salah satu korban penculikan yang kini berada di Davao. Ini perlu dilakukan, sebab Kontras

meragukan Herman Hendrawan di Davao tersebut. "Itu 'kan baru informasi. Polri akan mencocokkan ciri-ciri Herman dengan yang ada di sana melalui bantuan interpol di sana (Filipina). Apabila betul, maka akan kita (Polri) ambil," tutur Roesmanhadi dalam pertemuan pers di Jakarta, Sabtu. Polri telah mengirim data-data Herman Hendrawan ke Interpol Filipina.

Kapolri meminta masyarakat menunggu hasil pencocokan Interpol. "Kita tunggu dulu hasil dari Filipina. Ciri-ciri orang yang dicari itu begini, kira-kira cocok nggak dengan yang ada di sana. Mungkin saja dia operasi, tetapi pasti ada identitas lainnya yang tak bisa dihilangkan," jawab Kapolri.

Dari Tasikmalaya dilaporkan, Herman Hendrawan yang kini berada di Davao tak pernah tercatat sebagai mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya. Padahal, sebelumnya Herman itu mengaku jebolan Unsil dan pindah ke Universitas Katholik Parahyangan (Unpar) Bandung tahun 1997.

"Kami sudah membuka file mahasiswa yang keluar maupun transfer sejak tahun 1980 hingga kini. Tetapi tidak ada nama Herman Hendrawan seperti yang diberitakan. Nama Herman atau yang berakhiran Hendrawan memang ada, tetapi bukan Herman Hendrawan, dan data-data akademiknya tidak cocok," jelas Pembantu Rektor III Unsil Dr Ahmansya didampingi Kepala Humas Unsil Yadi Heryadi MSc yang dikonfirmasi, Sabtu (1/8).

Ahmansya mencontohkan, nama Herman yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan adalah mahasiswa Angkatan 90/91 dan kuliah hanya satu semester. "Kami tidak tahu dia pindah ke mana, karena kuliahnya hanya satu semester," ujarnya.

Nama lain yang mirip, lanjutnya, adalah Hendra Hendrawan yang tercatat sebagai mahasiswa Teknik Sipil angkatan tahun 1994. Satu lagi, adalah Hengki Hendrawan mahasiswa Ekonomi jurusan Manajemen juga angkatan 1994. "Dari data kami menemukan hanya tiga nama itu yang mirip tapi tidak ada Herman Hendrawan. Kami juga tidak pernah mendengar ada aktivis mahasiswa Unsil dengan nama itu," ungkapnya.

Mayat di Lampung
Sementara itu, Sekretaris Dinas Penerangan Polda Lampung Kapten (Pol) Zainal Gunawan membantah informasi penemuan 14 mayat mengapung di Way Umpu, Lampung Utara. "Hingga kini yang ditemukan hanya satu mayat saja dan sudah dikuburkan. Polisi telah turun ke lokasi serta mengumpulkan keterangan dari warga. Sejauh ini tidak ada informasi dan bukti-bukti penemuan 14 mayat itu," kata Zainal

di Bandarlampung, Sabtu. Guna klarifikasi, polisi meminta para kepala desa di Kecamatan Blambangan Umpu, mencari kebenaran dari warganya. Para kades membuat

pernyataan, warga hanya menemukan satu mayat mengapung dan itu sudah dikuburkan.

Mayat laki-laki yang ditemukan pada 18 Juli 1998, hingga kini identitasnya belum diketahui. Warga desa di Blambangan Umpu pun tidak ada yang melapor kehilangan anggota keluarganya. Ciri-ciri korban antara lain, usia sekitar 35 tahun, tinggi ditaksir 170 cm, berat badan diperkirakan 65 kg.

Kepala Divisi Pertanahan dan Lingkungan LBH Bandarlampung, Watoni Nurdin meminta pihak kepolisian, khususnya Polda Lampung mengusut tuntas kasus itu. LBH sangat menyesalkan, karena polisi terkesan kurang reaktif terhadap informasi penemuan belasan mayat di kawasan tersebut. "Polisi baru bertindak setelah LBH dan Kontras Jakarta turun ke lokasi dan kasus itu mencuat ke permukaan. Dari investigasi, LBH

Bandarlampung dan Kontras Jakarta tetap berkesimpulan memang ada warga melihat lebih dari satu mayat mengambang di Way Umpu. Penemuan itu tersebar di sembilan lokasi, umumnya desa-desa yang berada di pinggiran sungai itu," jelasnya. (ren/nn/zul/tra)

 
 

Copyright © 2007 | www.kontras.org
Jl. Borobudur No.14 Menteng | Jakarta Pusat 10320
Tlp: 021-3926983, 3928564 | Fax: 021-3926821 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org