korban penculikan
Profile Korban
Buku
Lain-lain

tombol.gif
penculikan
Untitled Document
BERITA      
 
Generasi "Baru" Aktivis: Setelah Mei 1998...
Sumber: KOMPAS Tanggal:06 Nov 2007

M Hernowo

Tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, pada 12 Mei 1998 karena ditembak, menancapkan refleksi yang amat dalam pada Usman Hamid, Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau Kontras.

Peristiwa itu membuat Usman, yang awalnya anak band, memutuskan aktif dalam gerakan penguatan masyarakat. "Saat penembakan terjadi, saya menjadi Ketua Senat Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Saya amat merasa berdosa kepada teman-teman yang menjadi korban dan bertanya mengapa peristiwa itu sampai terjadi?" tanya dia.

Penyesalan atas kematian empat rekannya dan kesadaran bahwa ternyata mereka dan korban berbagai peristiwa lain, seperti penculikan aktivis 1997-1998, belum juga mendapatkan keadilan, makin menguatkan Usman pada keyakinannya untuk membela hak-hak masyarakat, khususnya para korban. Bagi dia, keberadaan para korban tak dapat hanya dilihat sebagai ongkos politik dari sebuah perubahan, tetapi juga harus dapat dipertanggungjawabkan.

Meski Orde Baru sudah berakhir, Usman sadar, masih ada yang tidak senang dengan aktivitasnya selama ini. Dengan demikian, pembunuhan Munir pada 7 September 2004 masih mungkin terulang pada siapa saja. "Hidup dan mati itu urusan Tuhan. Yang penting, bagaimana mengisi hidup ini sebaik-baiknya," jawab Usman saat ditanya berbagai risiko yang mungkin dihadapi saat memperjuangkan keyakinannya.

Kesadaran pentingnya memperjuangkan hak korban setelah peristiwa 12 Mei 1998 ternyata juga tumbuh di sejumlah teman Usman di Universitas Trisakti. Mereka, antara lain, John Muhammad yang menjadi koordinator unjuk rasa mahasiswa 12 Mei 1998 dan Haris Azhar.

Kesadaran Usman serta dua temannya di atas sekarang tidak hanya menjadikan mereka sebagai bagian dari penggerak Kontras. Mereka juga menjadi sebagian dari generasi baru dari lembaga swadaya masyarakat (LSM). Selain mereka, ada tokoh lain seperti Danang Widoyoko dan Emerson Yuntho di Indonesia Corruption Watch (ICW), Taufik Basari (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), dan Mugiyanto (Ikatan Keluarga Orang Hilang).

Jika dicermati, para generasi baru LSM yang berasal dari aktivis 1998 ini mulai menduduki posisi penting, seperti koordinator atau kepala divisi. Secara perlahan, mereka mulai mengambil alih peran yang selama ini dipegang oleh generasi LSM sebelumnya, yaitu generasi Munir dan teman-temannya, seperti Amiruddin al Rahab (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat), Teten Masduki (ICW), dan Robertus Robet (Perhimpunan Pendidikan Demokrasi).

Selain di LSM, mantan aktivis 1998 juga ada yang aktif di partai politik (parpol). Mereka, antara lain, mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Budiman Soedjatmiko yang sekarang aktif di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan; Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam pada 1997-1999 Anas Urbaningrum (Partai Demokrat); serta mantan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia Rama Pratama (Partai Keadilan Sejahtera).

Menurut Budiman, keputusannya masuk parpol merupakan hasil perenungan panjangnya ketika mengambil S-2 di Universitas Cambridge, Inggris. "Saya berpikir, faktor penting untuk melakukan perubahan adalah punya kepemimpinan politik yang salah satu sumbernya ada di parpol," katanya.

Sama seperti rekan-rekan mereka yang berada di LSM, mantan aktivis 1998 ini juga mulai ada yang menduduki jabatan penting di parpol, baik dengan menjadi pengurus inti maupun anggota parlemen.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional Aktivis 1998 Adian Napitupulu menuturkan, selain aktif di parpol dan LSM, sebagian teman-temannya juga ada yang tetap bertahan di gerakan rakyat atau menjadi kaum profesional, seperti jaksa, hakim, pengacara, dan dokter, atau merintis karier sebagai pengusaha.

Perbedaan karier para mantan aktivis 1998 ini, lanjut Adian, sebenarnya sudah terlihat sejak aktivitas mereka di kampus. Secara garis besar, setidaknya ada enam sumber kegiatan mahasiswa yang menghasilkan aktivis di 1998. Empat di antaranya adalah pers kampus, kelompok studi, LSM, dan gerakan yang dahulu dianggap ilegal, seperti Partai Rakyat Demokratik.

Dua sumber lainnya adalah senat mahasiswa dan organisasi yang akibat kebijakan NKK/BKK yang dibuat Mendikbud Daoed Joesoef pada akhir tahun 1970-an, terpaksa ada di luar kampus. Organisasi itu, antara lain, Himpunan Mahasiswa Islam, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.

"Beragamnya posisi teman-teman sekarang ini tidak menjadi masalah. Yang penting, komitmen untuk membawa perubahan yang lebih baik di masyarakat terus dibawa," ungkap Adian.

Namun, saat ditanya tentang komitmen teman-temannya selama ini terhadap apa yang dicita-citakan pada tahun 1998, Adian menjawab, "Memang ada sejumlah perubahan, terutama pada teman-teman yang ada di parpol. Agresivitas perjuangan mereka tampak menurun. Namun, mereka menyatakan bahwa itu bagian dari langkah taktis dalam berpolitik."

Sedangkan Budiman menuturkan, komitmen tersebut bergantung pada masing-masing orang.

"Mereka yang ada di parpol atau kekuasaan mungkin memang komitmennya tampak berkurang. Namun, teman-teman yang memutuskan tetap berada di luar juga tidak seluruhnya bersih. Ada juga yang sekarang menjadi seperti broker politik," katanya.

Bagaimana sebenarnya komitmen para mantan aktivis 1998 ini, akhirnya memang akan ditentukan oleh waktu. Yang jelas, aktivitas para aktivis di sekitar akhir Orde Baru itu telah memberikan modal bagi mereka untuk melanjutkan hidup.

Sebab, seperti disampaikan Andi Arif, salah satu korban penculikan pada 1997-1998, keikutsertaannya dalam gerakan mahasiswa telah memberikan pelajaran tentang bagaimana bekerja keras dan terus berusaha mencari kemungkinan.

 
 

Copyright © 2007 | www.kontras.org
Jl. Borobudur No.14 Menteng | Jakarta Pusat 10320
Tlp: 021-3926983, 3928564 | Fax: 021-3926821 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org