PERINGATAN SATU DEKADE KONTRAS
Kampanye
Human Loves Human
 
KASUS MUNIR
Munir
Monitoring persidangan, sampai perkembangan terkini.
[Klik di sini]
 
TRISAKTI,SEMANGGI I&II
TRISAKTI, SEMANGGI I & II
GERAKAN MAHASISWA 98 dan PASCA 98
[Klik disini]
 
TANJUNG PRIOK

PERISTIWA TANJUNG PRIOK
12 September 1984
[Klik di sini]
 
TALANGSARI
talangsari
Tragedi Talangsari
7 Februari 1989
[Klik di sini]
 
PENCULIKAN
penculikan aktivis orang hilang
"Kasus Penculikan Aktivis"
[ Klik disini ]

Cari
Sumber

HuriSearch

Anda Pengunjung ke:
12874709

Siaran Pers
   
 
[ dilihat 2913 kali ]

Pernyataan Bersama:
Mengenai Kekerasan Dan Penyerangan Tehadap Jemaat Ahmadiyah Di Manislor Kabupaten Kuningan Jawa Barat

Penyerangan dan kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah oleh kurang lebih 1000 masa di Manislor Kabupaten Kuningan Jawa Barat (18/20), telah mengakibatkan 3 orang mengalami luka-luka (termasuk 1 terkena tusukan), 2 Mesjid rusak berat dan 8 rumah milik jemaat Ahmadiyah rusak (termasuk 4 rumah rusak). Penyerangan dan kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah Manislor dipicu oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan Ahmadiyah adalah sesat. Kemudian, masa mendasarkan fatwa MUI tersebut untuk membenarkan tindakannya melakukan penyerangan dan kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah di Manislor.

Penyerangan dan kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah di Manislor merupakan mata rantai yang tidak bisa dipisahkan dari kekerasan dan penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah sebelumnya, seperti kasus Lombok, Bulukumba dan Tasikmalaya. Ini juga memberikan sinyal kuat bahwa kekerasan dan penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah di indonesia dilakukan secara sistematis dan meluas, bahkan terorganisir mengingat pola kekerasan dan penyerangan di berbagai daerah hampir sama. Dimulai dengan fatwa MUI, kemudian mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pelarangan Ahmadiyah, diikuti dengan pengerahan masa, diakhiri dengan menyerang atau melakukan kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah. Ironisnya, pelaku penyerangan luput dari jeratan hukum, bahkan Pengadilan hanya menghukum percobaan untuk para pelaku kasus penyerangan dan kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah di Parung Bogor 2005.

Jaminan konstitusi untuk melaksanakan kebebasan beragama/kepercayaan hanyalah secarik kertas, yang tidak bisa diimplementasikan di lapangan. Begitu juga ketika pemerintah tidak melaksanakan secara efektif Undang-Undang (UU) No. 12/2005 tentang pengesahan ratifikasi Konvenan Hak Sipil Politik (Sipol) khususnya pasal 18 yang memberikan jaminan kebebasan beragama/kepercayaan. Jemaat Ahmadiyah tidak bisa menikmati jaminan konstitusi atas kebebasan beragama/kepercayaan tersebut, tidak seperti kelompok agama/kepercayaan lainnya yang dapat menjalankan hak atas kebebasan beragama/kepercayaan. Akibatnya tedapat diskriminasi dalam menikmati hak atas kebebasan beragama/kepercayaan. Pemerintah cenderung menutup mata atas praktek diskriminasi ini. Bahkan kehampaan penegakan hukum atas kasus-kasus penyerangan dan kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah menandakan pemerintah melakukan pembiaran pelanggaran hak atas kebebasan beragama/kepercayaan.

Penyerangan dan kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah di Indonesia merupakan pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) berat untuk kategori kejahatan terhadap kemanusuaan (crime against humanity) (pasal 9 UU Pengadilan HAM No.29/2006). Dimana kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah merupakan bagian serangan yang meluas dan sistematik, dan serangan tersebut ditujukan langsung terhadap Jemaat Ahmadiyah.

Kelompok minoritas agama/kepercayaan lainnya juga tidak dapat menikmati hak atas kebebasan beragama/kepercayaan, seperti munculnya permasalahan pendirian rumah ibadah dan penutupan rumah ibadah, serta kriminalisasi/penghukuman oleh pengadilan atas kepercayaan. Permasalahan penutupan tempat ibadah menjelang hari natal cenderung meningkat,  sementara lagi-lagi aparat penegak hukum melakukan diskriminalisasi dalam penegakan hukum terhadap para pelaku yang melakukan penutupan rumah ibadah. Pemerintah harus membaca situasi ini sebagai ancaman serius menjelang perayaan natal.

Berdasarkan hal tersebut, maka kami menyatakan sebagai berikut :

Pertama, Mendesak aparat penegak hukum khususnya kepolisian untuk menangkap dan membawa pelaku kekerasan dan penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah di Manislor ke Pengadilan dan menghukum para pelaku.

Kedua, Mendesak pemerintah khususnya pengadilan untuk melarang organisasi-organisasi masyarakat yang menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan.

Ketiga, Mendesak pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap kelompok minoritas keagamaan/kepercayaan yang merayakan hari natal.

Keempat, Mendesak Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pelanggaran HAM berat terhadap Jemaat Ahmadiyah.

Demikian pernyataan bersama ini.

Jakarta, 19 Desember ‏2007

 

AKKBB
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan



 
  Bookmark and Share  
 
 
 
BERIKAN KOMENTAR ANDA
Komentar yang diberikan adalah sepenuhnya tanggungjawab pemberi komentar.
Nama
 IP: 54.198.42.105
Komentar
email
 
 
   
BUKU


BANTUAN HUKUM MASIH SULIT DIAKSES


[download]


Index Buku terbitan kontraS
[Klik disini]
Buletin


PENCULIKAN AKTIVIS
[download]


[ Daftar buletin lengkap >> ]
HUKUMAN MATI
hukuman mati
Kampanye
Anti Hukuman Mati !!!
[Klik Disini]
POSO
hukuman mati
Pemantauan Kasus Pelanggaran HAM POSO
[Klik Disini]
ACEH
hukuman mati
Pemantauan HAM Di
Nagroe Aceh Darussalam
[Klik Disini]
AKSI DIAM KAMISAN
aksi diam kamisan
"Desakan Penuntasan Kasus Pelanggaran ham masa lalu"
[ Klik disini ]
UNDANG-UNDANG
INSTRUMEN HAM