01 Feb 2010
Malam Refleksi 100 Hari SBY :
Kembalikan Mereka yang Hilang “.....Pak SBY, tolong kembalikan mereka yang masih hilang. Jika masih hidup kembalikan kepada keluarganya, jika sudah meninggal tunjukan dimana kuburnya, sudah terlalu lama kami menantikan anak – anak kami yang nggak kembali hingga hari ini.........”
Kata – kata diatas merupakan sepenggal pernyataan ibu Nurhasanah atau biasa dipanggil ibu Nung yang disampaikan disela – sela malam refleksi dan doa bagi 13 orang korban penghilangan paksa aktivis 1997 – 1998, pada hari Minggu (31/01) di Bundaran Hotel Indonesia. Acara ini diprakarsai oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), Keluarga Besar Rakyat Demokratik (KBRD) dan berbagai elemen masyarakat sipil yang hadir dan berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Acara yang dimulai pada Pk 18. 30 wib diawali dengan menyalakan sekitar 100 lilin dan lampu teplok, angka tersebut disesuaikan dengan momentum 100 hari pemerintahan SBY Boediono dan 13 lampion yang melambangkan 13 orang yang masih hilang. Sementara itu, para peserta aksi membentangkan beberapa spanduk dan baliho dengan berbagai tulisan dan ukuran. Diantaranya “100 Hari SBY ; Kembalikan Mereka yang masih hilang.” Kemudian baliho dengan gambar 13 korban orang hilang.
Setelah menyalakan lilin dan lampion sebagai simbol spirit keluarga korban untuk terus mencari keluarga yang masih hilang. Acara yang dipandu oleh Sinnal Blegur (IKOHI) dan Chrisbiantoro (KontraS) mempersilahkan Mugiyanto, IKOHI, untuk menyampaikan orasi. Dalam orasinya Mugi menyorot tentang rekomendasi politik DPR RI yang dikeluarkan pada 28 September 2009 dan belum ditindaklanjuti oleh presiden hingga hari ini. Secara khusus Mugi menyatakan “pencarian 13 orang korban yang hilang dan pemulihan (reparasi) harus menjadi prioritas pemerintah.”Setelah itu, orasi dilanjutkan oleh Yati Andriyani (KontraS). Yati dalam orasinya menekankan “ penghilangan paksa adalah salah satu metode untuk membungkam gerakan masyarakat sipil. Bahkan Munir yang paling getol mengadvokasi kasus penghilangan paksa juga dihilangkan nyawanya.”
Selanjutnya orasi dilanjutkan oleh perwakilan masing – masing organisasi yang hadir, seperti KBRD, PBHI, LBH Jakarta, Ikatan Muda Muhammadiyah (IMM), Gerakan Indonesia Bersih (GIB). Selain perwakilan organisasi, hadir dan turut memberikan orasi adalah Ibu Endang, dia hadir memberikan solidaritas dan menuntut keadilan atas peristiwa pembakaran hidup – hidup yang menimpa anaknya hingga meninggal.
Selain orasi, acara juga diselingi oleh pembacaan puisi Wiji Thukul yang dibacakan oleh Icha dari KBRD dengan judul “Bunga dan tembok” dan menyanyikan beberapa beberapa lagu diantaranya Darah Juang dan Satukanlah yang dipimpin oleh salah satu rekan dari KBRD. Acara kemudian ditutup dengan doa dan harapan yang dipimpin oleh Ustad Maman yang secara khusus hadir untuk memberikan dukungan dan solidaritas kepada keluarga korban penghilangan paksa.***
|