Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
SIARAN PERS
FREE TIBET: No Human Rights, No Olympics



Tgl terbit: Selasa, 22 April 2008

FREE TIBET: No Human Rights, No Olympics


Hari ini tanggal 22 April 2008, pemerintah Indonesia secara resmi menyambut dan mengarak Obor Olimpiade. Kami sangat menghargai upaya pemerintah kita menyambut obor tersebut, namun kami memiliki sikap yang berbeda terhadap simbol pesta olah raga dunia itu. Sebab sampai detik ini, penguasa China masih mengingkari janjinya untuk memperbaiki kondisi hak asasi manusianya menjelang Olimpiade. Rakyat Tibet masih menghadapi penindasan dari rejim komunis China. Bahkan Obor Olimpiade dipaksakan akan melewati wilayah Tibet yang itu berarti tidak mengindahkan perasaan rakyat di sana.

Insiden kekerasan yang terjadi di Lhasa, Tibet pada pekan lalu yang menewaskan ratusan jiwa manusia tak berdosa adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berat. Karena itu, penguasa China harus segera membebaskan rakyat Tibet dari segala bentuk penindasan sebelum pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008. Kami juga mendesak komunitas internasional dan para pemimpin dunia untuk segera menekan rejim komunis China supaya memperbaiki catatan HAM-nya yang buruk di Tibet maupun di Daratan China.

Apa yang terjadi di Tibet, semakin memperburuk catatan hak asasi manusia di China yang sebentar lagi akan menggelar Olimpiade. Di luar itu, penguasa China juga terbukti melakukan pelanggaran HAM berat terhadap rakyatnya yang menuntut kebebasan berkeyakinan (pluralisme) dan demokrasi. Laporan Amnesty International pada tahun 2007 menunjukan adanya peningkatan pelanggaran HAM di negeri Tirai Bambu ini. Itu berarti penguasa China telah mengingkari janjinya pada tahun 2001 untuk memperbaiki kondisi HAM-nya jika terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade. Piagam Olimpiade yang memberi penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian telah dilanggarnya.

Berdasarkan kenyataan tersebut, kami dari Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet menyatakan sikap sebagai berikut:

  • Menolak Obor Olimpiade karena menjelang pesta olah raga dunia itu penindasan dan pelanggaran HAM semakin intensif dilakukan penguasa China terhadap rakyat Tibet dan rakyat China. Mendesak kepada Komisi HAM PBB dan organisasi hak asasi internasional lainnya agar melakukan penyelidikan independen atas kerusuhan yang terjadi di Lhasa.
  • Mendesak kepada penguasa China untuk segera mengakhiri kekerasan terhadap rakyat Tibet, serta bentuk pelanggaran HAM lain yang terjadi di China menjelang Olimpiade.
  • Menyerukan kepada para pemimpin dunia termasuk pemerintah Indonesia, dan Panitia Olimpiade internasional untuk menggunakan pengaruhnya- menekan penguasa China supaya segera memperbaiki keadaan HAM-nya yang buruk.

Mengajak masyarakat Indonesia dan komunitas internasional untuk memberikan solidaritasnya terhadap para korban pelanggaran HAM yang terjadi di Tibet dan China

Jakarta, 22 April 2008
Indonesian Society for A Free Tibet

 


Trri Agus S. Siswowihardjo
Koordinator


10 ALASAN MENGAPA CHINA TIDAK PANTAS MENJADI TUAN RUMAH OLIMPIADE 2008

Menindas Tibet
Sejak 1959, penguasa komunis China telah menindas rakyat Tibet. Sebanyak 150.000 rakyat dan biksu Tibet tewas dan ribuan kuil-kuil Buddha hancur akibat penindasan yang terjadi selama puluhan tahun. Pertumbuhan ekonomi Tibet yang mencapai 12 persen per tahun tidak bisa dinikmati rakyatnya, sebaliknya etnis lain (Han) lebih merasakan kue pembangunan itu. Menjelang Olimpiade Beijing, tekanan terhadap Tibet semakin intensif. Kekerasan yang tejadi belum lama ini di Lhasa yang menewaskan 140 orang adalah buktinya.
Menekan Kristen
Sejak akhir 1980-an, setidaknya 2,7 juta diantara 60 juta pengikut Kristen Family Church telah ditahan, dan 440 ribu dihukum kerja paksa dan pendidikan kembali. Bahkan lebih dari 10 ribu disiksa hingga mati, lebih dari 20 ribu menjadi cacat. Selain disiksa, para pemimpin gereja diseret ke pengadilan. Banyak juga gereja yang dihancurkan. Selama tahun 2000 telah dirusak sebanyak 450 tempat ibadah yang dianggap ilegal. Menjelang Olimpiade, tekanan terhadap mereka semakin kuat, sejumlah pimpinan Kristen ditangkap dan tahan.
Menumpas Muslim
Pada 2002, kaum muslim Uyghurs di Xinjiang barat dicap sebagai kelompok teroris. Sejak itu, penindasan semakin intensif dilakukan dengan cara memanggil imam dan menutup mesjid sampai menghukum mati ribuan orang setiap tahun. Kaum Muslim tidak diperbolehkan menghadiri sekolah agama atau datang ke mesjid sampai umur 18 tahun. Kegiatan dan ekspresi agama dilarang ketat di sekolah-sekolah. Mereka dilarang berdoa, memakai pakaian atau symbol agama, serta berpuasa. Menjelang Olimpiade terjadi beberapa kali penyerangan terhadap kaum muslim di Xinjiang yang menewaskan puluhan orang.
Menyiksa Falun Gong
Sejak ditindas pada 20 Juli 1999, sedikitnya 3.086 pengikut Falun Gong dipastikan tewas. Jumlah itu bisa lebih besar mengingat tertutupnya informasi di sana. Lebih mengerikan, mereka yang ditahan di kamp-kamp konsentrasi telah diambil organ tubuhnya untuk memenuhi industri transplantasi. Laporan David Matas & David Kilgour dari Kanada memperkuat dugaan itu. Kebiadaban itu masih berlangsung hingga kini meski secara resmi telah dilarang. Penangkapan besar-besaran terhadap pengikut Falun Gong juga terjadi menjelang Olimpiade, sejak awal 2008 ini sudah 1000 orang lebih ditahan dan puluhan tewas.
Menekan Aktivis
Aktivis HAM semakin menghadapi tekanan yang meningkat menjelang Olimpiade. Baru-baru ini aktivis HAM Hu Jia yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kesehatan HIV dihukum penjara 3,5 tahun atas dakwaan subversi. Sejumlah pengacara juga menjadi sasaran represi. Pengacara terkenal, Gao Zhisheng yang membela Falun Gong sudah setahun lebih menjalani tahanan rumah. Tahun lalu, polisi menangkap pengacara HAM Guo Feixiong dan menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara. Meskipun penguasa China telah membebaskan sejumlah tahanan Tiananmen, tapi jumlah aktivis HAM yang ditahan masih banyak.
Memasung Pers
Semua media harus tunduk di bawah kendali partai. Selain media cetak dan elektronik milik partai, pengendalian secara ketat dilakukan terhadap media swasta termasuk internet. Laporan tahunan indeks kebebasan pers 2007 versi Reporters Without Borders menunjukan kebebasan pers di China tetap menduduki 10 peringkat terburuk. Ia berada diurutan ke-163 dari 169 negara dunia. Menjelang Olimpiade, kontrol terhadap pers dan internet justru semakin ketat. Dalam setahun ini ratusan koran, radio dan website telah ditutup secara paksa.
Memperkeruh Darfur
Amnesty Internasional melaporkan pada 2005, Beijing mengapalkan 200 truk militer menuju Sudan. Bantuan militer ini memperkuat pasukan milisi bentukan pemerintah Sudan, serta memperparah perang saudara di Darfur sejak 2003, lebih dari 200.000 rakyat tewas akibat genosida ini, dan 2,5 juta orang harus meninggalkan tempat tinggalnya. Pemimpin Gerakan Keadilan dan Kesetaraan, Khalil Ibrahim menuduh Beijing memiliki andil besar dalam krisis di Dar fur karena memberikan senjata dan mendukung pemerintah Sudan.
Mengakangi Burma
Pemerintah Beijing mendukung junta militer Myanmar yang represif terhadap rakyatnya sejak berkuasa pada 1988, dengan membantu lebih dari 2 juta dolar AS untuk militernya, beberapa juta dolar AS dukungan ekonomi, termasuk basis infrastruktur dan berbagai pelatihan. Pada Januari 2007 lalu, China bersama dengan Rusia dan Afrika Selatan telah memveto sangsi PBB kepada Myanmar, sehingga membuat junta militer semakin kuat membabi buta dalam menghadapi gerakan demokrasi. Dukungan Beijing terhadap rejim Myanmar sepenuhnya demi kepentingan investasinya atas sumber daya alam di negeri itu.
Merusak Lingkungan
Berbagai studi dan foto-foto satelit membuktikan bahwa tingkat nitrogen dioksida di Beijing sangat tinggi, yang sangat berbahaya bagi kesehatan para atlet. Saat ini, China bahkan mengambil alih posisi Amerika Serikat sebagai penghasil karbon dioksida terbesar sehingga mendorong pemanasan global. Tidak puas menghancurkan lingkungan di dalam negeri, kini China melahap hutan alam Indonesia. Sedikitnya 300.000 meter kubik kayu merbau asal Papua diseludupkan ke China setiap bulannya. Permintaan kayu ilegal ini semakin meningkat seiiring dengan tingginya aktivitas pembangunan sarana dan prasana Olimpiade.
Menggusur Rakyat
Survei Centre on Housing Rights and Evictions di Jenewa menyebutkan lebih dari satu juta penduduk Beijing telah digusur secara paksa dengan alasan untuk pembangunan sarana dan prasarana Olimpiade, dan jumlah ini akan bertambah sampai 1,5 juta pada 2008 ini. Di luar itu, para pejabat partai telah menyita lahan warga untuk membangun pabrik-pabrik tetapi tidak memberi ganti-rugi yang semestinya kepada para petani. Warga yang menolak, atau menuntut ganti rugi yang layak harus berhadapan dengan represi aparat.



Kasus terkait Wamena 2003;:


Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 4,141 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org