Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
SIARAN PERS
Mendesak Pemerintah RI Upayakan Pembebasan 3 WNI DI Filipina

Tgl terbit: Senin, 04 April 2005

Press Release

Mendesak Pemerintah RI Upayakan Pembebasan 3 WNI DI Filipina

Keluarga Erikson Hutagaol didampingi KontraS dan PBHI menyayangkan sikap pemerintah RI yang belum mengupayakan pembebasan 3 WNI yang sejak 30 Maret 2005 di sandera oleh kelompok bersenjata di Filipina. Kami mencemaskan keselamatan ketiga sandera yang hingga kini tak jelas nasib dan keberadaannya. Pihak keluarga sendiri kehilangan kontak sejak sebelum dan setelah disandera pada 30 Maret 2005.

Penyanderaan berawal dari peristiwa perampasan sejumlah peralatan dan harta benda awak kapal Bonggaya 91 berbendera Malaysia yang berisi 7 awak. Tiga awak yang disandera perompak yaitu Achmad Resmiadi, 32 Th (Kapten), Erikson Hutagaol, 23 Th (Klasi) dan Yamin Labuso, 26 Th (Klasi). Sementara empat lainnya selamat. Keempat awak yang selamat telah melaporkan peristiwa ini ke Balai Polis Sandakan pada 31 Maret 2005. Mereka juga mengirim surat kepada Presiden RI via Konsulat Kinabalu-Malaysia pada 5 dan 20 April 2005.

Pada 19 April 2005 pihak keluarga Erikson Hutagoal telah mencoba menemui pihak Departemen Luar Negeri RI, diwakili Bapak Ferry Adamhar, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia. Namun ketika itu, pihak Deplu beralasan sedang sibuk dengan KTT Asia-Afrika.

Melalui pernyataan ini, kami kembali meminta Pemerintah Indonesia mengupayakan pembebasan saudara kami, para WNI yang disandera. Kami berharap upaya pembebasan dapat dilakukan sebagaimana pernah dilakukan pemerintah terhadap Meutya Hafid dan Budiyanto atau ketika kasus Rofikah dan Rosidah di Irak.

KontraS, PBHI dan Keluarga Erikson Hutagaol sungguh-sungguh berharap agar langkah pembebasan tersebut dilakukan dengan mengutamakan keselamatan para sandera. Dalam hal ini, membangun komunikasi dengan segala pihak dalam upaya pembebasan sandera tersebut.

Jakarta, 4 April 2005

Parulian Hutagaol

KontaS (Edwin Partogi)

PBHI (Takih)


 

Kronologis Peristiwa

Penyanderaan ABK Warga Negara Indonesia di Filipina Oleh Kelompok Bersenjata 30 Maret 2005

Pembajakan disertai penculikan terhadap WNI ini terjadi pada hari Rabu, 30 Maret 2005 di perairan 3 mil dari Pulau Mataking tepatnya 119' 00" 00" E dan 04' 35" 00' N pada pukul 10.20 waktu setempat diatas kapal Bonggaya 91" berbendera Malaysia.

Pelaku menggunakan speedboat warna putih garis biru atas dengan mesin 30-40 HP, kasitas penumpang 6 orang, panjang 5 m. Pelaku berjumlah 5 orang dengan membawa 4 senjata laras panjang (diperkirakan jenis AK 47 dan M 16 ) dan 2 buah pistol. Pakaian pelaku loreng tentara. Usia diperkirakan 24-35 Th. Percakapan menggunkan bahasa Taglog dan Melayu serta Inggris dan diyakin oleh korban yang selamat sebagai warga negara Philippine.

Kronologis:

  1. Tugboat Bonggaya 91" dengan ponton "Bonggaya 90", berangkat dari pelabuhan juata laut, Tarakan, Kalimatan Timur. Tanggal 29 Maret 2005, Jam 12.00 waktu setempat dengan tujuan Kudat, Sabah, Malasiya, kapal dalam perjalanan pulang setelah mengantar kayu jenis Akasia dari Kudat milik perusahaan Disteny kepada perusahaan Chaipdeco, Juwata Laut, Tarakan.
  2. Kapal berawak 7 orang bernama. Resmiadi (Kapten) Yamin Labuso (Klasi), Erikson Hutagaol ( Klasi), Beny Butar Butar (Kepala Kamar Mesin ) Rohimin Yuwana (Masinis II Wardo Wijaya (Mualim I) Haryanto Bin Arsyad (Klasi).
  3. Ketka sedang berlayar dengan kecepatan Full speed ( 8 Knot / Jam ) melihat sebuah speedboat menghampiri. Setelah dekat terlihat penumpang speed adalah orang berpakaian loreng dan membawa senjata. Kemudian melepaskan tembakan ke udara sebanyak 3 kali dan memerintahkan stop dengan memberi signal tangan tanda berhenti setelah melihat kejadian itu, kapten mengurangi kecepatan dan para pelaku naik ke kapal. Pelaku yang naik ke kapal berjumlah 4 orang dan 1 orang standby di speedboat, 2 orang naik ke Anjungan melalui tangga samping. Pada saat itu crew berjumlah 6 orang berada di anjungan dan 1 orang di kamar tidur, semua crew di perintahkan keluar dengan mengangkat tangan untuk pergi ke deck bawah di buritan kapan, perintah disampaikan dengan menggunakan bahasa Inggris.
  4. Sampai di buritan, pelaku meminta uang tetapi dijawab tidak ada dan kemudian pelaku meminta 2 jam tanggan crew, kemudian pelaku di speedboat melepaskan tembakan 2 kali sebagai syarat untuk segera meninggalkan kapal.
  5. Setelah itu, pelaku menanyakan siapa kapten dan memilih crew untuk dibawa turun ke boat. Setelah itu salah satu pelaku memilih para crew yang akan dibawa dengan mengunakan bahasa melayu.
  6. Para awalnya mereka memilih 5 orang untuk dibawa, setelah itu pelaku menanyakan agama masing-masing dan memerintahkan kelima orang tersebut untuk menyebutkan dua kalimat syahadat, dari kelima orang tersebut 4 beragama Islam dan 1 beragama kristen protestan, tetapi hanya 2 yang dapat mengucapkan kalimat syahadat dengan suara keras, maka akhirnya yang dibawa pelaku adalah 2 orang muslim dan 1 Kristen.
  7. Setelah pelaku membawa 3 WNI , membawa radio GPS, pengeras, suara, teropong dan 5 HP, dan 4 jam tangan dan merusak radio VHF, terus pelaku meninggalkan kapal kearah sebelah timur menuju pulau Saluag atau pulau Holo, Philippine.
  8. Kejadian berlangsung selama 15-20 menit.
  9. 8 menit kemudian para crew langsung menambah kecepatan menuju daratan terdekat (daerah Felda). Setelah melihat keadaan aman dan posisi kapal 5 mil dari pantai dekat Felda, para crew merubah haluan kearah Tambisan dengan tujuan melajutkan perjalanan ke Sandakan. Dalam perjalanan ke Sandakan, melaporkan kejadian melalui Hp yang tersisa ke kantor Bonggaya di Sandakan.
  10. Tiba di Sandakan pada tanggal 31 Maret 2005, pukul 08,45 dan langsung marekat laporkan polisi dan Balai Polis Sandakan dengan ditemani oleh pemilik perusahaan bernama Vincent Chan.
  11. Selatah menyampaikan laporan dan diambil keterangan sampai hari ini para crew yang selamat, standby di kapal menunggu arahan pihak polisi dan perusahaan.
  12. Pada Sabtu, tanggal 2 April 2005 jam 11.45, para pelaku telah menghubungi crew dan pihak perusahaan dengan meminta tembusan.


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 3,618 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org