Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Hasil Investigasi TNI Dianggap Janggal

Sumber: TEMPO.CO | Tgl terbit: Sabtu, 06 April 2013

Jakarta - Aktivis hak asasi manusia menilai hasil investigasi TNI Angkatan Darat atas kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, janggal. TNI diduga mengarahkan opini bahwa penyerangan dilakukan oleh personel berpangkat rendah tanpa melibatkan atasannya. “Justru yang perlu diusut adalah apakah ada komando dalam penyerangan itu,” ujar Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi, kepada Tempo, Jumat 5 April 2013.

Indikasi kejanggalan itu, kata dia, antara lain, sejak awal TNI sudah menepis penyerangan itu terencana. TNI juga menyebutkan hanya ada 11 anggota Komando Pasukan Khusus yang terlibat. Padahal sejumlah saksi menyebutkan jumlahnya mencapai 17 orang. “Itu pun masih dikurangi dua orang yang dikatakan berusaha mencegah,” tutur Hendardi.

Pada penyerbuan Sabtu, 23 Maret 2013 dinihari itu, pelaku menembak mati empat tahanan di sel A5. Keempat korban tersebut adalah tersangka pembunuh anggota Kopassus, Sersan Kepala Santoso, di Hugo's Cafe, Sleman, pada 19 Maret 2013.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, mengungkapkan bahwa temuan TNI cuma berfokus pada hari penyerbuan. Sedangkan temuan Kontras menunjukkan banyak dinamika yang terjadi beberapa hari sebelum penyerangan. "Misalnya, ada pertemuan antara petinggi TNI dan Polri beberapa hari sebelum penyerangan. Mereka tahu akan ada kejadian ini, tapi tidak mencegahnya," tutur dia.

Hasil investigasi Kontras juga menunjukkan penyerangan dilakukan oleh lebih dari 11 orang yang datang menggunakan truk. Temuan ini berbeda dengan pengakuan TNI yang menyebutkan pelaku berjumlah 11 orang yang mengendarai tiga mobil, Toyota Avanza, Suzuki APV, dan Daihatsu Feroza.

Seorang warga di sekitar lokasi latihan Kopassus di Gunung Lawu berujar, hampir tak mungkin peserta latihan meninggalkan lokasi karena selalu diawasi ketat oleh pelatih. Apalagi jarak dari tempat latihan ke markas pelatih sekitar 1-2 kilometer, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Adapun jarak dari markas ke dusun sekitar 1 kilometer.

Keluarga korban penembakan juga menolak hasil tim investigasi TNI. "Hasil investigasi itu merupakan bagian dari rekayasa untuk menutupi skenario pembantaian dan jaringan pelaku yang lebih luas," kata Yani Rohi Riwu, kakak Gameliel Rohi Riwu, di Kupang kemarin.

Markas Besar TNI membantah tudingan adanya rekayasa dalam hasil investigasi, dan meminta keluarga korban menunggu hasil investigasi lanjutan. "Masyarakat bisa saja punya pendapat berbeda, tapi buktinya ada apresiasi dari 250 juta penduduk Indonesia," kata juru bicara TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul, kemarin.

Mengenai pergerakan sejumlah anggota Kopassus dari lokasi latihan di Gunung Lawu yang tidak diketahui atasannya, menurut Iskandar, hal itu mungkin saja terjadi. Para pelaku, ia melanjutkan, turun dari gunung pada waktu istirahat sekitar pukul 00.30. "Namanya juga pasukan khusus.”

Sejumlah Kejanggalan Itu

1.Modus Penyerangan
TNI AD:
-Penyerangan dilakukan reaktif dan spontan sebagai balas dendam karena eksekutor berinisial U berutang budi kepada Serka Heru Santoso.
- Tiga anggota Kopassus pelaku penyerangan turun dari Gunung Lawu, tempat latihan militer di Dusun Tlogodringo, Desa Gondosuli, Karanganyar, Jawa Tengah. Delapan anggota Kopassus Kandang Menjangan ikut ke penjara Sleman.

Imparsial:
Penyerang datang dari tempat berbeda. Tak mungkin pelaku bisa bertemu tanpa ada komunikasi dan menyusun rencana.

Kontras:
Kalau reaktif itu misalnya digebuk, lalu lima menit kemudian dibalas. Serangan ini selang berhari-hari (dari insiden awal--) dan pakai banyak senjata.

2.Motif Pembunuhan
TNI AD:
Prajurit Kopassus berinisial U, sebagai eksekutor, ingin balas dendam atas tewasnya Sersan Kepala Heru Santoso setelah dianiaya oleh empat tahanan yang dihabisi di penjara Sleman.

Kontras:
Tim Investigasi TNI AD mengumumkan motif balas dendam bisa jadi untuk meringankan hukuman dan menjauhkan dari kemungkinan keterlibatan atasan pelaku ataupun institusi. CCTV Hugo’s Cafe: Serka Heru Santoso sempat adu mulut sebelum terjadi pembunuhan.

3.Level Pelaku
TNI AD:
Anggota Kopassus yang terlibat berpangkat tamtama dan bintara.

Kontras:
-Diduga ada keterlibatan petinggi kepolisian dan TNI AD. Pada 19 Maret malam, ada rapat di Kepolisian Daerah Yogyakarta, yang dihadiri Kepala Polda, petinggi TNI, dan anggota Kopassus.

4.Formasi Penyerangan
TNI AD:
Sebanyak 11 anggota Kopassus terlibat dalam pembunuhan di penjara Sleman pada 23 Maret lalu. Sembilan orang ikut menyerang, satu orang sebagai eksekutor empat tahanan, dan dua orang lagi berusaha mencegah.

Kontras:
-Sekitar 17 orang menerobos masuk penjara Sleman. Pelaku mengenakan rompi dan penutup muka, menganiaya sipir dan merusak kamera pantau (CCTV).
-Salah seorang pelaku ada yang berperan sebagai time keeper alias penjaga waktu. Dia terus-menerus melihat jam di tangannya.



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 1,127 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org