Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
MUNIR MERAIH "RIGHT LIVELIHOOD AWARD" DARI SWEDIA

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Jumat, 06 Oktober 2000

Jakarta, Kompas
Pengakuan terhadap sepak terjang Ketua Dewan Pengurus Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Munir, semakin bertambah dengan dipilihnya dia sebagai penerima Right Livelihood Award tahun 2000 untuk pengabdian di bidang pemajuan hak asasi manusia (HAM) dan kontrol sipil terhadap militer di Indonesia. Penghargaan yang sering disebut sebagai "Alternative Nobel Prize" itu akan diterima Munir, 8 Desember, dalam upacara pemberian penghargaan itu di depan Parlemen Swedia.

Pengumuman mengenai penganugerahan Right Livelihood Award itu disampaikan Kamis (5/10) sore waktu Indonesia, oleh pengurus Yayasan Right Livelihood Award di Swedia.

Munir menerima penghargaan itu bersama-sama tiga penerima penghargaan sejenis lainnya, yaitu ilmuwan Ethiopia Tewolde Gebre Egzhiaber atas pengabdiannya di bidang keanekaragaman hayati dan pemajuan hak tradisional petani, pengabdi lingkungan dari Turki Birsel Lemke atas kampanye tak kenal lelah yang dilakukannya untuk penghentian penggunaan sianida di pertambangan emas, dan ahli agronomi Amerika Serikat Wes Jackson yang terus mengembangkan
pertanian tanaman keras.

"Saya sendiri tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan ini, karena rasanya sudah lama sekali saya mengisi formulir yang disampaikan yayasan tersebut mengenai aktivitas saya dan Kontras. Saya semula berharap Kontras-lah yang akan mendapatkan penghargaan itu, tetapi mungkin usia Kontras yang masih pendek jadi pertimbangan tersendiri," ungkap Munir.

Yayasan Right Livelihood Award mulai memberikan penghargaan sejak tahun 1980 untuk melengkapi penghargaan Nobel yang bidangnya sangat terbatas. Masing-masing penerima penghargaan akan mendapatkan 2 juta kron Swedia atau sekitar 200.000 dollar AS, untuk mendukung aktivitas para penerima penghargaan tersebut.

"Saya sendiri tidak tahu siapa yang mencalonkan nama saya untuk menerima penghargaan tersebut. Tetapi, secara rutin saya memang diberitahu bahwa nama saya lolos dari tingkat satu ke tingkat lainnya, sampai akhirnya terpilih. Kontras juga sebenarnya lolos sampai 10 besar, tetapi saat pengambilan keputusan final tampaknya memang belum saatnya untuk Kontras mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut," jelas Munir.

Dalam catatan penerima penghargaan tersebut, Munir adalah orang Indonesia kedua yang dianugerahi penghargaan bergengsi itu. Warga Indonesia lainnya yang pernah mendapat penghargaan serupa adalah Carmel Budiardjo pada tahun 1995, atas pengabdiannya mengampanyekan penegakan HAM di Indonesia  khususnya Timor Timur. (oki)



Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 418 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org