Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Catatan Kriminal September : MASYARAKAT DIMINTA BERSABAR

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Senin, 02 Oktober 2000

SIAPA pun sepakat, peristiwa kriminal terbesar sepanjang bulan September tentulah ledakan bom di areal parkir lantai P2 Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Rabu (13/9). Selain diduga kuat sebagai teror bernuansa politis, ledakan di tempat yang menjadi pusat kegiatan pasar uang itu juga menewaskan 10 orang, hampir semua orang-orang kecil yang tak bersalah.

Polisi pun kelimpungan menghadapi teror beruntun berupa peledakan berbagai bahan peledak. Diawali ledakan di gedung bundar Kejaksaan Agung pada awal Juni, menyusul ledakan bom di depan rumah dinas Duta Besar Filipina awal Agustus, pelemparan granat di halaman Kedutaan Besar Malaysia akhir Agustus, dan peledakan bus Kowanbisata di kawasan Ragunan.

Hingga ledakan bom di BEJ, penyelidikan dan penyidikan polisi tak juga diketahui sampai di mana. Bom yang tidak sempat meledak di gedung Kejaksaan Agung, misalnya, sudah jelas dari mana asalnya. Namun polisi tak juga berhasil mengungkapkannya. Padahal semua petinggi TNI mengatakan sudah membuka pintu lebar-lebar bagi polisi untuk memasuki wilayah TNI dalam rangka mengusut "perjalanan" bom itu sejak dikirim PT Pindad ke Markas Besar TNI.
Perjalanan benda berbahaya itu seharusnya tercatat rapi, tetapi toh polisi tak juga berhasil. 

Maka, ketika bom meledak lagi di BEJ dan menewaskan 10 orang serta mencederai puluhan lainnya, sebagian masyarakat menunjukkan kemarahannya. Polisi diminta mengusut tuntas kasus-kasus peledakan itu. Sama kencangnya adalah desakan agar Kepala Kepolisian Negara RI waktu itu Jenderal Polisi Rusdihardjo dan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Nurfaizi, agar mundur.

Karena semua ledakan itu terjadi berdekatan dengan momen-momen penting pemeriksaan/pengadilan mantan Presiden Soeharto, banyak orang kemudian menduga peledakan itu dilakukan oleh kelompok-kelompok pendukung Soeharto.

***
 
KETIKA kemudian polisi mengumumkan telah menangkap pelaku peledakan bom di BEJ beserta pelaku-pelakunya, masyarakat tetap saja tak puas. Tudingan rekayasa, mengalihkan perhatian, dan ungkapan sinis lainnya bermunculan karena yang tertangkap hanyalah "orang-orang kebanyakan" seperti pemilik bengkel mobil dan anak buahnya. Kalaupun ada keterlibatan anggota TNI, mereka hanyalah bintara berpangkat sersan dan prajurit. Apalagi saat mengumumkan
keberhasilannya itu, Wakil Kepala Dinas Penerangan Markas Besar Kepolisian RI Senior Superintendent Saleh Saaf mengait-ngaitkan dengan gerakan sipil bersenjata dari etnis tertentu, Aceh.

Sejumlah kejanggalan termasuk juga faktor kebetulan memang masih menyelimuti keberhasilan penangkapan para tersangka pelaku peledakan BEJ. Dengan alasan penyidikan masih berlangsung, polisi belum bersedia mengungkap bagaimana proses penyelidikan hingga penangkapan para tersangka yang terkesan berbau keberuntungan semata. Ditambah kenyataan bahwa yang ditangkap polisi hanyalah "orang-orang biasa" dan sama sekali tak ada kaitannya dengan keluarga dan kroni Soeharto, masyarakat pun sulit diyakinkan bahwa keberhasilan polisi itu bukanlah rekayasa semata. Apalagi, kemudian menyusul terjadinya ledakan petasan di halaman kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Rabu (27/9). 

***
 
MENANGGAPI pesimisme dan berbagai cemoohan masyarakat itu, Kapolri Jenderal Polisi Bimantoro yang baru dilantik Jumat (22/9) lalu menyatakan, tidak akan terpengaruh. "Yang penting nanti di pengadilan," katanya.

Mantan Kapolri Awaludin Djamin bahkan mengaku tak bisa mengerti dengan tuntutan masyarakat. "Kemarin mereka menuntut polisi segera menangkap pelaku. Ketika pelaku ditangkap, mereka bilang ini rekayasa," katanya seusai menghadiri upacara serah terima jabatan Kapolri, Selasa (26/9).

Sedangkan Kriminolog dari Universitas Indonesia Adrianus Meliala meminta masyarakat tidak buru-buru mengadili polisi. Bagaimanapun, upaya penangkapan para tersangka pelaku peledakan bom di Jakarta haruslah dihargai. Menurut ia, ada masanya polisi masih banyak menyimpan keterangan para tersangka, sekaligus menutup kesempatan wartawan mewawancarai mereka. Tujuannya, agar informasi yang berkait dengan pengembangan kasus itu tidak terbuka kepada publik.

Namun, ada masanya pula polisi nantinya harus membuka akses kepada para tersangka. Saat itulah, masyarakat bisa mengkonfirmasi keterangan polisi dengan pengakuan para tersangka. "Kalau ternyata tidak klop, ya kita ketawain saja polisi," katanya.

Sekarang, ke-30 tersangka pelaku serangkaian peledakan itu memang masih ditahan dan terus diperiksa oleh polisi. Ketua Tim Koneksitas Kasus Peledakan di Jakarta Brigjen Polisi Makbul Padmanegara menyatakan, polisi akan memanfaatkan waktu penahanan maksimal 120 hari untuk menyelesaikan kasus ini.
   
Sementara Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya Senior Superintendent Harry Montolalu menyatakan terus mengembangkan kasus ini. Menurut ia, berawal dari pengakuan dan bukti yang dimiliki para tersangka, kini telah berkembang ke penangkapan-penangkapan atas tersangka peledakan di daerah-daerah. Hanya, belum jelas benar apakah mereka terlibat langsung dalam serangkaian aksi peledakan di Jakarta. Yang jelas, saat ditangkap mereka juga memiliki senjata api dan bahan-bahan peledak. Belum terungkap pula motif-motif peledakan.

Soal motif memang baru akan terungkap jika gembong peledakan, orang di balik layar atau aktor intelektualnya tertangkap. Sejauh hanya pelaku lapangan, alias bukan aktor intelektualnya, masyarakat tetap saja tak bisa menerima? Karena itu, bersabar dululah... (msh/rts)



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 843 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org