Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
KELUARGA TEUNGKU BANTAQIAH MINTA JAMINAN KEAMANAN

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Jumat, 25 Februari 2000

Jakarta, Kompas
Keluarga besar Teungku Bantaqiah meminta pemerintah memberikan jaminan keamanan kepada mereka untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, serta jaminan melanjutkan aktivitas pesantren. Mereka meminta penjagaan ketat aparat keamanan di jalan menuju Beutong Ateuh, khususnya di sekitar tempat Teungku Bantaqiah, segera ditarik, karena penjagaan itu membuat warga Beutong Ateuh yang mengungsi takut kembali ke tempat asalnya.

Permintaan itu disampaikan istri kedua almarhum Teungku Bantaqiah,Ny Man Farisyah (33), serta adik ipar Bantaqiah, Teungku Blang Beurandeh, kepada wartawan di kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Jakarta, Kamis (24/2). Selain istridan adik ipar Bantaqiah, datang bersama mereka adik Teungku Bantaqiah,Teungku Kedesmot, anak Bantaqiah yang turut terkena tembakan, SaidSufi, dan pimpinan yayasan pesantren Bantaqiah, Teuku Zainuddin.

Farisyah yang juga menjadi saksi langsung pembunuhan Bantaqiah, anak dan pengikutnya oleh TNI, mengungkapkan, kehadirannya di Jakarta adalah untuk mencoba menemui Presiden Abdurrahman Wahid dan beberapa orang menteri, untuk membicarakan permintaan keluarga besar Teungku Bantaqiah tersebut.

"Bagi masyarakat Islam, khususnya di Beutong Ateuh, masalah pendidikan agama sangat rawan. Jangan sampai kami yang di tengah hutan ini ada dugaan adalah rombongan GAM. Kami tidak termasuk rombongan GAM. Kami semata-mata demi untuk kepentingan agama, dan mengajar atau belajar di tempat pesantren," tegas Beurandeh.

Situasi pesantren, lanjut Zainuddin, sekarang tidak berjalan seperti biasanya, sebelum ditinggalkan Teungku Bantaqiah. Siapa pun yang naik ke Beutong Ateuh ditangkap dan diproses. Aparat akan menanyakan ke mana maksud dan tujuan orang itu naik ke Beutong Ateuh. Kalau menjawab akan ke tempat Teungku Bantaqiah, dia langsung dikatakan sebagai anggota gerakan pengacau keamanan (GPK). 

Ditembak tiga kali
Ketika diminta menguraikan kejadian penembakan Teungku Bantaqiah, Farisyah memaparkan, pada hari Jumat, 23 Juli 1999, serombongan aparat berpakaian loreng, dan sebagian mukanya dicat coreng moreng serta sebagian lain memakai topeng, datang ke pesantren Bantaqiah. Awalnya mereka ditemui murid Bantaqiah, M Yusuf, tetapi karena yang dicari aparat itu adalah Bantaqiah, maka M Yusuf kemudian memberitahukan gurunya yang sedang mengajar di lantai atas, mengenai kedatangan pasukan tersebut.

Awalnya, lanjut Farisyah, Bantaqiah sempat memegang sebuah pisau sebelum turun, akan tetapi niat itu kemudian diurungkan setelah diberitahu istri keduanya itu. Farisyah yang ikut turun bersama suaminya melihat suaminya berbicara dengan komandan pasukan tersebut. Dia juga melihat Usman, anak pertama Bantaqiah dipukul anggota pasukan tersebut pada dadanya sehingga nyaris tidak bisa berjalan. Melihat diperlakukan seperti itu, Bantaqiah mengucap, "Allahu Akbar" tiga
kali. Reaksi Bantaqiah itu dijawab dengan tembakan pasukan yang diyakini Farisyah sebagai pasukan TNI tersebut. Pada tembakan pertama dan kedua, Bantaqiah masih bisa bertahan. Baru pada tembakan ketiga dengan senapan yang lebih besar, Bantaqiah pun roboh. Menyusul kejadian itu, sejumlah aparat lainnya pun menembaki murid-murid dan anggota keluarga Bantaqiah lainnya.

Farisyah membantah adanya perlawanan dari Bantaqiah, anggota keluarganya atau murid-muridnya. Dia juga tidak pernah mengetahui ada senjata di pesantren suaminya itu, serta keterkaitan Bantaqiah dengan Gerakan Aceh Merdeka.

Setelah kejadian, Farisyah menjelaskan sempat beberapa kali didatangi anggota Polisi Militer yang meminta agar kuburan dibuka kembali. Akan tetapi meski telah dua kali diminta, Farisyah menolak untuk membuka kembali kuburan massal itu. (oki)



Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 381 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org