Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
KONTROL SENJATA API HARUS DIPERKETAT * Seorang Babinsa Tembak Warga

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Senin, 07 Februari 2000

Jakarta, Kompas
Terjadinya beberapa aksi kriminal dengan menggunakan senjata api oleh anggota aparat keamanan sendiri, menunjukkan gejala demoralisasi aparat keamanan. Hal itu harus diwaspadai dan disikapi dengan kontrol yang semakin ketat dalam hal izin membawa senjata api, serta seleksi ketat terhadap siapa-siapa yang dipercayai memegang senjata api tersebut. Di sisi lain, imunitas hukum yang dinikmati aparat setiap kali mereka menggunakan senjata api juga harus dihilangkan, karena seringkali imunitas itu menjadikan aparat terdorong untuk terus melakukan kekerasan dengan senjata api.

Demikian dikemukakan Ketua Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Bambang Widjojanto dan Koordinator Badan Pekerja Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Munir, Sabtu (5/2). Mereka menanggapi peristiwa perampokkan bersenjata oleh oknum Brigade Mobil seperti yang terjadi di Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan Bumi Serpong Damai, Tangerang (Kompas, 4/2 dan 30/1).

Bahkan yang terakhir, Jumat (4/2) petang, seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa) Teluknaga (Tangerang) Sersan Satu Ismail menembak Aries AS (30), warga Kampung Gombor, Jatiuwung. Menurut Kepala Penerangan Kodam Jaya Letkol (Inf) DJ Nachrowi, bintara yang menembak warga tersebut kini berada dalam tahanan Komando Distrik Militer (Kodim) Tangerang. "Apa pun alasannya, Sersan Ismail telah melakukan kesalahan. Menembak seseorang di luar prosedur adalah
suatu kesalahan besar. Apalagi yang ditembak adalah rakyat," kata Nachrowi, Minggu (6/1) malam.

Penembakan terhadap Aries terjadi di depan PT Koryo di Jalan Prabu Siliwangi, Kampung Gembor, Jatiuwung. Peristiwa itu terjadi gara-gara mobil Feroza korban menyerempet motor Sertu Ismail. Keduanya kemudian bertengkar, namun dilerai oleh seorang anggota Satuan Pengamanan (Satpam) PT Koryo. Namun Sertu Ismail setelah memukul Aries, malah mengeluarkan pistol. Dia lalu menembak punggung Aries, yang langsung tersungkur. Korban kini dalam perawatan di RS
Cipto Mangkunkusumo.

Demoralisasi aparat
Menurut Munir, kejadian itu menunjukkan adanya gejala penurunan disiplin aparat keamanan. Demoralisasi aparat itu bisa terjadi akibat mereka terlalu terjebak ke dalam soal-soal politik makro. Demoralisasi itu juga agaknya terjadi karena melemahkan perkembangan pendidikan di kepolisian dan TNI.

"Begitu pula soal krisis ekonomi juga berimbas kepada mereka. Kalau dilihat dari beberapa problem itu, kontrol terhadap perilaku aparat di lapangan semakin diperlukan. Di wilayah yang aman seperti Jakarta saja, tindakan mereka seperti itu. Apalagi di daerah-daerah, tuduhan aparat melakukan pencurian dan pemaksaan menjadi cukup alasan?" ungkap Munir.

Hal senada ditegaskan Widjojanto yang menilai semakin perlunya peningkatan disiplin serta kontrol terhadap kemungkinan penggunaan kekerasan dengan senjata api dengan menggunakan senjata organik aparat sendiri. "Komandan harus menerapkan sanksi yang tegas terhadap mereka yang diketahui melakukan tindakan yang bertentangan dengan disiplin atau melanggar hukum," kata Widjojanto.

Lemahnya kontrol terhadap pengawasan penggunaan senjata api tersebut ditandai dengan tidak adanya sweeping. "Ini tugas Polisi Militer, dan memang harus koordinasi. Di tingkat internal pun mereka tidak boleh petantang-petenteng membawa di senjata api," lanjut Widjojanto.

Menurut Munir, salah satu kesulitan melakukan kontrol terhadap aparat yang menyimpang adalah karena mereka selama ini menikmati imunitas hukum terus-menerus. Akibatnya, profesionalitas mereka semakin lemah karena sangat meyakini kelemahan itu bisa dilindungi imunitas hukum yang selama ini telah dinikmati sedemikian rupa.(oki/rts/mul)



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 369 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org