Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Penyerbuan RS Jakarta : BELUM SATU PUN TENTARA DIPERIKSA

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Selasa, 26 Oktober 1999

Jakarta, Kompas
Agaknya kasus penyerbuan dan perusakan Rumah Sakit Jakarta (RSJ) akan dibiarkan begitu saja, walau Presiden KH Abdurrahman Wahid telah memerintahkan penyelidikan atas peristiwa tersebut. Karenanya, hingga hari ke lima setelah penyerbuan yang terjadi tanggal 20 Oktober malam lalu, belum satu personel tentara atau polisi pun diperiksa tim penyidik Polda Metro Jaya.

"Belum, belum ada," kata Kepala Kepolisian RI Jenderal (Pol) Roesmanhadi, saat wartawan menanyakan apakah sudah ada tentara atau polisi diperiksa dalam kasus penyerbuan RSJ. Roesmanhadi ditemui wartawan di Lapangan Parkir Timur Senayan, Senin (25/10), usai upacara penarikan kembali pasukan pengamanan Sidang Umum MPR.

Kapolri mengaku, belum mengetahui secara jelas siapa pelaku penyerbuan yang mengakibatkan kerusakan serius di rumah sakit yang belum lama direnovasi itu. Ia menyatakan telah memerintahkan Kapolda Metro Jaya untuk melakukan penyelidikan secepatnya. Jika memang ada anggota polisi yang terlibat, Roesmanhadi menyatakan, akan memberikan sanksi.

"Bagaimana bila tentara yang terlibat?" tanya wartawan. Roesmanhadi tidak menjawab secara tegas. Ia hanya menyatakan "Justru itu yang akan kami selidiki."

Seperti diwartakan, ketika melakukan penyelidikan awal sekitar 24 jam setelah penyerbuan, tim penyidik Polda Metro Jaya sudah menanyai sejumlah petugas satpam, dokter, dan karyawan RSJ. Kompas yang saat itu berada di lokasi mendengar secara jelas para saksi itu mengatakan bahwa para penyerbu adalah tentara dari kesatuan tertentu. Meski demikian, sampai sekarang belum diperoleh kejelasan apa tindak lanjut dari keterangan saksi-saksi tersebut. Roesmanhadi mengharapkan masyarakat melihat bahwa kasus itu tidak berdiri sendiri. Karena sebelumnya terjadi perampasan senjata api milik Mayor Sumaji.
Para pelaku diketahui bersembunyi di RSJ, tetapi karyawan di sana menyatakan tidak ada massa yang bersembunyi. Menurut Noegroho Djajoesman, sampai saat ini belum diketahui di mana senjata api milik Mayor Sumaji itu berada.

Sementara itu, menurut rencana, Selasa ini, Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Noegroho Djajoesman akan melakukan pertemuan dengan petugas RSJ yang malam itu bertugas untuk mengidentifikasi para penyerbu. Hasil pertemuan terbuka itu akan dilaporkan secara tertulis kepada Panglima TNI.

Faulia Siregar
Salah seorang korban penyerbuan RSJ, Faulia Siregar, menyatakan, pihaknya melalui Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) akan menuntut aparat keamanan atas penyiksaan terhadap dirinya.

Kontras mengutuk penyerbuan RSJ, yang kemudian diikuti penganiayaan sejumlah orang, dan perusakan. Pernyataan Kontras itu disampaikan Wakil Koordinator Badan Pekerja Kontras Ori Rahman, Senin, di Jakarta. Dia menjelaskan, sampai saat ini ada sekitar 20 korban insiden RS Jakarta yang akan mengajukan tuntutan kepada aparat keamanan melalui Kontras. (oki/msh) 



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 437 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org