Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
PENGANIAYAAN AKTIVIS
Presiden: Polisi Harus Usut Tuntas

Sumber: suarakarya-online.com | Tgl terbit: Jumat, 09 Juli 2010
JAKARTA (Suara Karya): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan Polri untuk mengusut kasus penganiayaan atas aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) Tama Satrya Langkun.

"Harus segera dicari tahu pelaku dan motifnya," kata Presiden dalam pengantar sidang kabinet paripurna di Jakarta, Kamis. Tama adalah salah satu aktivis ICW yang sering mengungkap dugaan korupsi di berbagai instansi. Akhir-akhir ini, dia aktif mendorong pengungkapan kasus dugaan rekening mencurigakan milik sejumlah perwira tinggi Polri.

Presiden menjelaskan, Indonesia adalah negara yang menjunjung asas demokrasi. Karena itu, pemerintah mendukung kebebasan berpendapat dan mengutuk upaya membungkam atau meneror kebebasan itu.

Presiden menjelaskan, pihak-pihak tertentu mungkin memanfaatkan situasi ketika dua pihak berbeda pendapat sedang berusaha menyelesaikan perbedaan itu dengan baik.

Selain untuk kasus penganiayaan aktivis ICW, Presiden juga berharap Polri menyelesaikan kasus pelemparan bom molotov di kantor redaksi majalah Tempo di Jakarta.

Sementara itu, Menko Polhukam Djoko Suyanto mengecam tindak penganiayaan terhadap aktivis ICW dan pelemparan bom molotov di kantor redaksi majalah Tempo. Dia meminta aparat penegak hukum mencari pelaku dan menjatuhkan hukuman sesuai aturan yang berlaku, termasuk jika pelaku adalah aparat penegak hukum.

Kecaman serupa juga diungkapkan Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana. Namun, dia meminta masyarakat tidak tergesa-gesa menduga identitas pelaku kekerasan itu. Dia berharap masyarakat memberikan kesempatan kepada aparat penegak hukum untuk mengusut kedua kasus kekerasan itu.

Sementara itu, ditemui di ruang perawatan RS Asri, Jakarta, Tama mengaku diikuti orang tidak dikenal sejak Senin (5/7) lalu sebelum terjadi penganiayaan terhadap dirinya, Jumat dini hari. Sebelumnya seseorang mengajaknya bertemu.

Tama menuturkan, orang yang menghubungi dirinya itu mengaku wartawan sebuah media cetak nasional. Namun, saat dikonfirmasi kepada kenalan Tama di media itu, tidak ada yang mengenal nama orang itu.

Menurut Tama, orang itu mengajak bertemu di suatu tempat. Namun Tama menyuruhnya bertemu di kantor ICW di Jakarta. Anehnya, orang yang menghubungi Tama itu malah mengaku tidak mengetahui alamat kantor ICW.

Tama juga mengungkapkan, orang yang mengaku wartawan itu mengajak kerja sama investigasi terkait kasus pajak. "Tapi saya tidak percaya bahwa dia wartawan karena logat bicaranya berbeda-beda," tuturnya.

Akibat tindak penganiayaan yang dialaminya, Tama mendapatkan 7 jahitan pada badan bagian belakang kanan, 9 jahitan pada belakang kepala sebelah kiri, dan 12 jahitan di pelipis mata kanan.

"Tama dihadang bersama temannya, Khadafi, oleh satu mobil berwarna perak dan sebuah sepeda motor," kata peneliti hukum ICW Febri Diansyah. Tama, menurut Febri, dipepet oleh mobil sampai jatuh. Kemudian dua orang pengendara sepeda motor menganiaya dia.

Febri juga memaparkan, berdasarkan sejumlah saksi, para pemukul Tama berbadan tegap.

Wakil Koordinator ICW Adnan Topan Husodo menduga penganiayaan terhadap Tama terkait laporan ICW tentang rekening mencurigakan milik sejumlah perwira tinggi Polri. Namun, katanya, bisa saja kasus itu karena mofif lain semisal masalah parampokan atau masalah pribadi. Tapi kemungkinan tersebut kecil sekali.

Sementara itu, Koordinator ICW Danang Widoyoko mengatakan, pihak kepolisian telah proaktif menanyakan kondisi Tama Satrya Langkun untuk menangani dugaan penganiayaan aktivis itu.

Danang menjelaskan, beberapa hari sebelum terjadi penganiayaan terhadap Tama, terdapat beberapa hal yang mencurigakan di kantor ICW.

Danang menambahkan, ICW menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk mengungkap kasus itu, termasuk memastikan apakah penganiayaan tersebut terkait atau tidak dengan upaya Tama yang melaporkan rekening besar milik perwira tinggi kepolisian kepada Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Kasus.

Tidak Terlibat

Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri menjamin tidak ada anak buahnya yang terlibat dalam kasus penganiayaan Tama. Kapolri meminta media jangan asal tuduh institusi kepolisian.

"Tidak mungkin (Polri), tidak ada. Jangan menuduh dulu. Kami tidak pernah perintahkan anak buah seperti itu," kata Bambang.

Dia juga meminta agar media massa tidak langsung menulis bahwa polisi berada di balik kasus-kasus pelemparan kantor majalah Tempo dan penganiayaan aktivis ICW.

Untuk dua kasus ini, Kapolri yakin akan bisa segera mengungkap perbuatan yang tidak terpuji itu. "Sekarang sedang diperiksa saksi-saksi dan mencari petunjuk-petunjuk lainnya," kata Kapolri.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Edward Aritonang menegaskan, pihaknya sudah menindaklanjuti kasus penyerangan terhadap Tama.

Menurut dia, Polri saat ini telah memeriksa beberapa saksi untuk mengungkap kasus tersebut, sehingga pelakunya segera bisa ditangkap dan tidak berkembang isu-isu liar yang tidak diinginkan.

Dia juga berharap pelaku secara jantan keluar dari persembunyiannya sehingga diketahui motifnya, tidak justru "sembunyi tangan".

Edward menolak memastikan keterkaitan peristiwa penganiayaan dengan pelemparan bom molotov di kantor majalah Tempo, beberapa waktu lalu. Sebab, kata Edward, dua kasus itu akan terungkap setelah pelakunya tertangkap.

Upaya Pembungkaman

Selain menuai kecaman dari berbagai elemen masyarakat, sejumlah LSM antikorupsi maupun pegiat HAM menilai, pembungkaman terhadap para pejuang keadilan dan antikorupsi saat ini dilakukan dengan cara-cara kasar, terbuka, dan terang-terangan.

"Kekerasan terhadap Tama tak ada indikasi kriminal murni, karena tidak ada barang-barang pribadi yang hilang, seperti HP, dompet, dan motor. Ini tampaknya kriminal politik, ujar Koordinator Kontras Usman Hamid.

Hal senada juga dikemukakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Transparency International Indonesia (TII) Teten Masduki. Ia berpendapat, kejadian yang menimpa Tama merupakan upaya untuk membungkam aktivis antikorupsi.

"Dari indikasi proses kekerasan, saya simpulkan bahwa ini merupakan teror fisik untuk membangun rasa takut," ujar Teten.

Dia yakin, penganiaya Tama adalah pihak-pihak yang merasa terganggu dengan aktivitas ICW selama ini, sehingga, kata dia, dengan mudahnya melakukan serangkaian intimidasi terhadap para aktivis antikorupsi.

Sementara Danang Widoyoko menyatakan, kejadian ini menunjukkan betapa lemahnya sistem perlindungan dan jaminan rasa aman dari pemerintah terhadap masyarakat. (Sugandi/Jimmy Radjah/Hanif S)



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 233 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org