Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
KONTRAS SEGERA KLARIFIKASI MAHASISWA "HILANG"

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Selasa, 28 September 1999

Jakarta, Kompas
Komisi untuk orang hilang dan korban tindak kekerasan (Kontras) segera mengklarifikasi 37 mahasiswa dan tiga pelajar yang dinyatakan "hilang" atau belum kembali, menyusul aksi demo menentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) pekan lalu.

"Laporannya sudah ada. Tetapi sampai saat ini belum ada klarifikasi yang lengkap, terutama dari pihak keluarga yang melaporkannya. Kebenarannya dicek dulu, terutama pihak keluarga," kata Koordinator Kontras Munir di Jakarta, Senin (27/9).

Sebelumnya, Forum Kota (Forkot) menyatakan, 37 mahasiswa dan tiga pelajar "hilang" atau belum kembali dalam peristiwa bentrokan antara aparat keamanan dengan mahasiswa sejak Kamis lalu di Jakarta. Mereka adalah 17 mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah, tiga Universitas Kristen Indonesia (UKI), tujuh Universitas Sahid, tiga ISTN, enam Perbanas, satu Universitas Guna Dharma dan tiga pelajar STM Budi Murni.(Kompas, 27/9)

Menurut Munir, dalam insiden 23-24 September itu tidak tertutup kemungkinan aparat melakukan penangkapan tanpa prosedur. Orang yang melakukannya bisa saja bukan dari kepolisian, tetapi dari institusi lain sehingga orang yang ditahan pun kehilangan komunikasi dengan pihak keluarga atau lingkungannya.

"Justru itu, aparat harus segera melepaskan mereka yang ditahan. Kalau memang ada pelanggaran tindak pidananya dan ada bukti awal, beritahu keluarga yang bersangkutan supaya jelas keberadaan orang-orang yang ditahan," ujarnya. 

Polisi tak tahu-menahu
Sementara Kadispen Polda Metro Jaya Letkol (Pol) Zainuri Lubis menyatakan, tidak tahu-menahu soal keberadaan 37 mahasiswa dan tiga pelajar itu. "Yang jelas ada 49 orang yang sekarang ditahan di Polda Metro Jaya," katanya. Ia menyatakan tidak tahu apakah mereka yang dinyatakan belum kembali itu ada di antara yang ditahan. Data terinci mengenai siapa saja yang ditahan, sampai berita ini diturunkan, belum diperoleh.

Dari 49 orang tahanan, 30 ditangkap di Slipi, Kamis lalu,  dengan sangkaan membawa bom molotov dan senjata tajam. Sedangkan 19 lainnya ditangkap di sekitar kampus Universitas Atma Jaya, Jumat. Lima orang disangka membawa senjata tajam, 14 lainnya disangka melakukan pengeroyokan terhadap aparat keamanan.
 
Lima kembali
Secara terpisah, Ketua Tim Litigasi Forkot Lambok Gultom mengatakan, pihaknya telah mengkoordinasikan ke 27 perguruan tinggi simpul-simpul Forkot. Dari 37 mahasiswa yang belum kembali, lima yang sudah kembali, yaitu seorang mahasiswa UKI, Guna Dharma, Sahid dan dua mahasiswa Unas.

"Kami menduga teman-teman yang belum diketahui keberadaannya itu karena diambil aparat di jalan. Sebab, Sabtu lalu saja, sejumlah mahasiswa ada yang menghilang ketika memperingati gugurnya Yun Hap di Atma Jaya," ungkapnya.

Sementara Kontras, kata Munir, segera membentuk tim investigasi pencarian orang yang diduga hilang. Tugasnya, melakukan pencekan kepada keluarga, lalu melaporkannya kepada kepolisian atau lembaga non-kepolisian.

Jika memang ada kesengajaan menghilangkan mahasiswa, Kontras melakukan upaya hukum, misalnya, mengadukannya ke Puspom TNI atau menggugatnya ke pengadilan umum. (smn/msh)    



Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 287 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org