Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Teluh di Ciamis Selatan : IBARAT BARA DALAM SEKAM

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Senin, 03 Mei 1999

PENGANTAR REDAKSI
BANYUWANGI dan Ciamis/Tasikmalaya Selatan sudah lama memiliki kesamaan: dukun santet yang di wilayah Jawa Barat itu dikenal dengan sebutan dukun teluh. Sudah lama juga selalu terjadi perburuan dan pembantaian masyarakat terhadap orang yang bisa memiliki kelebihan membunuh orang dari jarak jauh ini. Bahkan sudah puluhan pengadilan digelar untuk mengadili para pembantai dukun itu, tetapi peristiwa ini tidak pernah surut. Sesudah Banyuwangi heboh karena pembantaian sekitar 117 jiwa, maka sekarang Ciamis mengalami hal serupa, meski korbannya belum diketahui persis berapa jumlahnya. Yang jelas-seperti juga Banyuwangi-peristiwa ini berlangsung dalam periode waktu yang cukup singkat. Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai masalah ini, wartawan Kompas, Her Suganda, menelusurinya. Berikut ini adalah laporannya.
 
SUDAH sejak tahun lalu, sejak peristiwa pembunuhan dukun-dukun santet di Banyuwangi, Jawa Timur, pandangan orang-orang tertentu diarahkan ke daerah selatan Jabar. Paling tidak ke Tasikmalaya selatan dan Ciamis selatan, dua daerah yang dicurigai. "Jangan-jangan, peristiwa tersebut merembes ke daerah itu," begitu kekhawatiran itu muncul.

DI dua daerah itu, santet disebut teluh. Tetapi cara-cara, pelaksanaan dan korbannya, pada dasarnya sama saja. Korban teluh menurut masyarakat setempat, umumnya meninggal secara tidak wajar. Biasanya didahului perut buncit atau muntah darah dengan berbagai keluhan lainnya. Masih menurut masyarakat setempat, keluhan tersebut tidak bisa didiagnosa menurut ilmu pengobatan modern.

Salah satu korban yang dipercayai meninggal akibat teluh adalah Sadro. Anak laki-lakinya, Elang (35 tahun) yang sehari-hari jadi penyadap nira, bahan baku gula kelapa, rupanya menyimpan bara dendam. Ia beranggapan kematian ayahnya tidak wajar karena sebelumnya pernah bertengkar dengan Kasna (70 tahun). (Baca: Penyadap Nira Kelapa di halaman 8).

Elang menyimpan perasaannya sampai akhirnya suatu saat ia bisa menumpahkan dendamnya pada orang yang dianggap sudah menghabisi nyawa ayahnya. Utang uyah dibayar uyah, begitu salah satu sikap hidup yang dianut sebagian masyarakat Ciamis selatan. Uyah artinya garam. Dalam arti kias, uyah sama dengan nyawa.

Arti uyah bisa menjadi sangat luas karena sekaligus berbau arogansi sebagai orang selatan dengan menyatakan, Ieu aing uyah kidul (saya ini "orang" selatan). Ungkapan itu menurut penyair Sunda Godi Suwarna, sekaligus memperingatkan bahwa dirinya adalah orang selatan yang memiliki kelebihan.

Sikap masyarakat Ciamis selatan tampaknya memang lebih terbuka dan lugas. Mungkin karena daerahnya dekat dengan pantai dan tempaan alamnya
relatif kurang subur.

***

BAHWA ungkapan utang uyah dibayar uyah bukan hanya sekadar kata-kata, Elang membuktikannya tanpa bekas sedikitpun. Bersama dengan kelompoknya, buruh penyadap nira-bahan baku gula kelapa- ia mengakui telah membantai sepuluh korban yang dituduh dukun teluh. Tidak jelas kenapa sampai sepuluh orang yang jadi korban. Bisa jadi sulit untuk mendeteksi dukun teluh tertentu yang "mengerjai" ayahnya, sehingga kelompok Elang ini lalu membantai mereka yang diduga dukun teluh.

Selain Elang dan anggota kelompoknya, masih terdapat kelompok lain yang dipimpin Sentot alias Hadi Jaka Purnama (33 tahun) dan belakangan disebut-sebut pula Hendrik. Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Ciamis, Letkol (Pol) Drs Martono mengungkapkan sudah sekitar 43 orang yang ditangkap.

Sampai sekarang belum diperoleh angka pasti berapa jumlah korban pembantaian berangkai dukun teluh di daerah itu. Komisi untuk Orang-orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) mengungkapkan sekitar 50 orang tewas. Jumlah itu hampir dua kali lipat laporan polisi.

Polisi sebelumnya hanya melaporkan sekitar 18 orang tewas. Belakangan bertambah menjadi 26 orang. Satu jumlah yang tidak banyak berbeda dengan laporan pemda setempat, yakni sebanyak 27 korban meninggal. Mereka berasal dari Kecamatan Pangandaran sebanyak 14 orang, Kecamatan Padaherang lima orang, dan dari Kecamatan Parigi delapan orang. Jumlah itu belum termasuk dari Kecamatan Cigugur.

Sulitnya memperoleh angka pasti, menurut Kapolres, karena masyarakat merasa takut sehingga tidak melaporkan anggota keluarganya yang hilang dan menjadi korban. "Polisi mencatat korban berdasarkan data, tidak asal dengar saja," kata Kapolres.

Sebagian keluarga korban lainnya hanya pasrah seperti dialami keluarga Sahya. Penduduk Desa Karang Jaladri, Kecamatan Parigi itu dibantai puluhan atau bahkan ratusan massa pada Minggu (11/4) tengah malam. Ketika itu Sahya sedang menemani menantunya, Suryaman yang sedang melakukan jaga malam bersama tetangganya. Tiba-tiba Sahya disergap, lalu lehernya dijerat. Karena berteriak dan minta tolong, laki-laki malang itu kemudian diseret dan dianiaya.

Ternyata malam itu, di Desa Karang Jaladri masih ada dua korban lainnya, Rusdi dan Saptiah, yang mengalami nasib serupa.

***

NASIB orang-orang yang dituduh dukun teluh umumnya berakhir dengan eksekusi. Lehernya dijerat lalu diserahkan kepada massa untuk dihakimi. Korban yang sudah tidak berdaya, dijadikan bulan-bulanan pelampiasan dendam yang sudah beraduk dengan amarah.    

Tarmuji (60 tahun) yang 'diambil' kelompok Sentot pada Rabu malam, 6 Januari, mengakui sebagai dukun teluh. Menyadari nasib yang akan menimpa dirinya, ia minta maaf karena dengan ilmu teluh telah membunuh Sarkum. Sarkum adalah ayah Sentot yang meninggal dua tahun lalu. Tarmuji yang berasal dari Desa Pagergunung itu diarak dulu sebelum dieksekusi beramai-ramai. Sebagai puncak kebencian dan kemarahan, mayatnya kemudian digantung di jembatan, lalu dibakar.

Sejak itu pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh dukun teluh terus berlangsung. Bahkan massa makin beringas dan mengancam setiap orang yang dicurigai sebagai dukun teluh, termasuk anak didik dan bahkan keturunannya. 

Kahi (67 tahun) dan Ruhdi (45 tahun) yang menjadi bandar buah-buahan, merupakan korban-korban berikutnya. Ayah dan anak yang merencanakan perhelatan khitanan itu terpaksa berantakan ketika rumahnya diserbu pada Jumat (26/2) malam. Kahi yang menggigil ketakutan akhirnya mengakui memiliki ilmu teluh, tetapi ilmu tersebut sudah diturunkan kepada anaknya.

Mendengar pengakuan ayahnya, tentu saja giliran Ruhdi yang menggigil ketakutan. Apalagi massa sudah mengepung rumah mereka. Ruhdi akhirnya memanjat dinding tembok rumah lalu bersembuyi di langit-langit. Gertakan dan ancaman kelompok massa yang mendatangi rumahnya berhasil memaksa istrinya memberitahu tempat persembunyian suaminya.

Nasib kedua ayah dan anaknya itu sudah bisa dibayangkan. Keduanya dieksekusi di depan keluarganya, sama dengan nasib yang dialami keluarga Oneng (60). Satu-satunya pemilik bengkel sepeda di Desa Sukaresik itu dihabisi pada Senin (12/4) malam.

Ketika itu Oneng sedang mengobrol dengan seseorang. Tiba-tiba pintu depan diketuk. Pada saat pintu dibuka, seseorang menjerat lehernya lalu tubuhnya diringkus oleh beberapa orang. Dalam keadaan tidak berdaya, Oneng kemudian dilempar ke jalan raya yang menghubungkan Pangandaran dengan Cijulang. Kepalanya pecah membentur aspal.

***

KORBAN-korban pembunuhan orang-orang yang dituduh dukun teluh biasanya dilemparkan dari atas jembatan Kali Ciwayang. Mayatnya biasanya ditemukan beberapa hari kemudian mengambang di bagian hilir, atau mungkin juga hancur lebih dulu di semak belukar yang menutupi sisi kiri-kanan palung sungai.  Ciwayang merupakan salah satu anak Sungai Cijulang yang bermuara di Samudera Hindia. Air sungai tersebut jernih kebiru-biruan di atas palung sungai yang terdiri dari batuan kapur. Dari hulunya di daerah bukit Ciamis selatan, air sungai mengalir deras sampai akhirnya melewati Cukang Taneuh, obyek wisata yang selama ini populer dengan julukan Grand Canyon karena keindahannya.     Tepat di daerah yang dijadikan tempat pembuangan korban pembantaian yang terletak di bagian hulu Grand Canyon, lebar palung sungai hanya sekitar lima-tujuh meter. Dinding sungai merupakan tebing curam sedalam kurang-lebih 20 meter, sehingga dalam keadaan hidup sekalipun, orang yang dilempar dari atas jembatan tersebut dengan sendirinya akan mati. Apalagi jika sebelumnya sudah mengalami
penganiayaan dan dalam keadaan sekarat.

***

BERBEDA dengan kasus serupa di Banyuwangi yang sangat dicurigai ada motif politik di belakangnya, meski penyelesaiannya tidak jelas sampai sekarang, bahkan orang seolah melupakannya, pembantaian dukun teluh di Ciamis selatan ini tidak terdengar sama sekali adanya kaitan politik. Namun demikian, ada saja yang berusaha mengail di air keruh. Perburuan tidak saja diarahkan pada mereka yang dianggap dukun teluh, tetapi mulai melebar. (Baca: Terganggunya Ketenteraman Masyarakat di hlm 8).

Di mata sebagian masyarakat, pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun teluh tersebut dianggap perbuatan heroik. Terutama di kalangan mereka yang anggota keluarganya meninggal tidak wajar karena teluh. Karena itu, jangan kaget jika mendengar adanya dukungan moril dan material terhadap para eksekutor.     Ini berarti, bara api sebenarnya belum padam sepenuhnya mengingat kepercayaan mistis terhadap teluh tidak bisa dihilangkan begitu saja,
sementara sumber konflik yang ada di masyarakat cukup banyak.*      



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 1,637 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org