Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Biografi Munir: Musuh Pelanggar HAM Telah Tiada

Sumber: Detikcom | Tgl terbit: Rabu, 08 September 2004
Reporter: Nurul Hidayati

detikcom - Jakarta, Siapa tak tahu Munir? Sulit dibantah sangat sedikit sekali orang yang tidak tahu siapa pria berambut bule itu. Namanya identik dengan perjuangan hak asasi manusia (HAM), isu sensitif di era modern ini.

Munir mulai moncer tahun 1998-an. Kala itu dia banyak disorot media massa karena keberaniannya mengadvokasi kasus penculikan aktivis. Nyaris saban hari Munir yang membawa bendera Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) itu menghiasi berita di televisi. Sosoknya tak lepas dari sifat cerdas dan berani.

Saking beraninya membeberkan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat negara, banyak kalangan bertanya-tanya, siapa di belakang pria berbadan kecil itu? Tapi hingga kini tidak ada jawaban pasti. Munir hanya menyebut bahwa pendorongnya adalah justru istri tercintanya.

Siapa Munir sebenarnya? Pria keturunan Arab ini lahir di Malang, pada Rabu, 8 Desember 1965. Gelar sarjana hukumnya diraih di Universitas Brawijaya (Malang) pada 1989. Pada 1989, Munir masuk ke LBH Malang sebagai sukarelawan, lalu memutuskan total sebagai orang LBH.

Pada tahun 1995, Munir mendapat promosi menjabat sebagai Direktur LBH Semarang selama tiga bulan. Lalu ditarik ke YLBHI, Jakarta, merangkap sebagai Koordinator Kontras pada 1998. Menikah dengan Suciwati, Munir dikaruniai seorang anak bernama Sultan Alif Allende (5) dan Difa (2).

Ditengarai karena kevokalannya, rumah Munir di Jl Diponegoro 169 kawasan wisata Kotatif Batu Malang, (kampung halamannya) diteror bom, Senin (20/8/2001). Dan berkat kevokalannya juga, Munir mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain Yap Thian Hien Award dari Yayasan Pusat HAM dan penghargaan dari UNESCO (Badan PBB untuk Ilmu Pengetahuan, Pendidikan dan Kebudayaan) karena dinilai berjasa memperjuangkan HAM di Indonesia.

Lengser dari Kontras, Munir mendirikan lembaga HAM sejenis bernama Indonesian Human Rights Monitor alias Imparsial. Di tengah kesibukannya memperjuangkan HAM, Munir juga bersimpati pada perjuangan Amien Rais, yang mencapreskan diri pada Mei lalu. Tak ayal, Munir pun sempat menjadi salah satu bintang iklan kampanye Amien Rais versi testimoni.

Belakangan, Munir banyak bicara soal RUU TNI yang tengah digodok DPR dan pemerintah. Sembari menyorotinya, Munir mempersiapkan keberangkatannya untuk sekolah S-2 bidang Hukum Humaniter di Universitas Utrecht, Belanda.

Dan Senin malam (6/9/2004), Munir terbang ke Negeri Kincir Angin untuk mengejar cita-cita. Namun tiga jam sebelum mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, atau pada Selasa pagi (7/9/2004), Yang Maha Pengasih mengambilnya.

Selamat jalan, Cak Munir! (nrl)


Kasus terkait Tragedi Mei 1998;:


Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 349 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org