Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
AKIBAT TEROR, PUSKESMAS TUTUP DAN WARGA MENGUNGSI

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Senin, 18 Januari 1999

Dili, Kompas
Sedikitnya 372 warga dari Kabupaten Manufahi, Ainaro dan Liquica di Timor Timur merasa diteror, dan sejak 6 Januari lalu berbondong-bondong ke Dili minta perlindungan di kediaman Manuel Viegas Carrascalao, ketua Gerakan Rekonsiliasi Persatuan Masyarakat Timtim (GRPRTT). Sementara itu tiga dokter di Puskesmas Comoro Dili Barat diteror dan diintimidasi oleh sekelompok pemuda tak dikenal. Akibatnya, sejak Selasa pekan lalu Puskesmas ditutup selama 10 hari.

Manuel Carrascalao hari Minggu (17/1) mengatakan para pengungsi yang meminta perlindungan kepada GRPRTT itu terdiri  atas 60 anak termasuk 25 bayi, wanita, orang tua, dan pemuda. Mereka diteror, diintimidasi, disiksa dan diculik malam hari oleh kelompok pemuda yang membawa senjata api. Mereka itu  sudah lama dibina ABRI dan tetap bertindak di bawah perintah aparat keamanan.

"Apakah mereka itu diperintahkan mengungsi ke Dili, atau atas kemauan sendiri, mengapa mereka diintimidasi, dan sebagainya, akan diteliti oleh tim yang terdiri Kontras (Koordinator untuk Orang hilang dan Tindak Kekerasan) Timtim, Yayasan Hukum, Hak Asasi dan Keadilan( HAK), Komisi Keadilan dan Perdamaian Diosis Dili, dan Komnas HAM Cabang Timtim. "Hasil temuannya akan disampaikan kepada Pemda dan ABRI setempat," kata Manuel.

Para pengungsi tidur di tenda darurat di halaman belakang kediaman Carrascalao yang dikelilingi pagar kawat. Setiap hari mereka duduk di samping pendopo rumah sambil membaca koran, menggendong anak, dan memperhatikan orang yang lewat. Mereka mendapat bantuan berupa singkong, jagung, beras, pisang, sayur mayur, pakaian dan sejumlah uang dari pihak gereja, para pengusaha Dili, dan lembaga swadaya masyarakat setempat. Mengingat besarnya jumlah pengungsi, bantuan tersebut masih sangat diharapkan oleh GRPRTT.

Komandan Komando Resor Militer 164/WD, Kolonel (Inf) Tono Suratman, mengatakan tidak benar telah terjadi pengejaran, teror, intimidasi, dan penculikan terhadap sejumlah warga masyarakat di tiga kabupaten tersebut oleh para pemuda binaan ABRI. Setiap kejadian di daerah selalu dilaporkan ke Danrem.

"Saya sudah cek ke setiap Dandim, dan jawabannya tidak ada kejadian tersebut. Tetapi kami terus melakukan penyelidikan di lapangan apa ada teror dan intimidasi, atau cuma rekayasa dari orang atau kelompok tertentu untuk kepentingan politik mereka. Yang jelas, setiap orang yang melanggar hukum harus diproses sesuai hukum," kata Tono.

Dokter diteror
Tiga dokter di Puskesmas Comoro Dili Barat diteror dan diintimidasi oleh sekelompok pemuda tak dikenal. Para pemuda itu mencuri fasilitas Puskesmas, barang milik dokter, melempari rumah dokter, mencaci maki dokter itu dengan coretan pada dinding Puskesmas. Masyarakat dan Pemda kurang menanggapi keprihatinan dokter di Timtim. Akibatnya, sejak Selasa Puskesmas ditutup selama 10 hari.

Dokter Joni, kepala Puskemas itu,  menjelaskan teror dan intimidasi terhadap para dokter di Puskesmas Comoro, beberapa hari lalu adalah yang keenam kali, sejak Agustus 1998. "Yang jelas, rumah dokter dilempar batu hingga kaca rumah berlubang-lubang, bagian dalam rumah diobrak-abrik, atap rumah ditimbuni batu-batu besar. Untung dokter segera melarikan diri ketika terjadi pelemparan. Ban cadangan mobil milik Puskesmas dicuri, lampu sirene mobil Puskesmas dicabut,
pakaian dokter sebanyak tiga tas dicuri, dan jemuran pakaian di luar rumah juga lenyap. Barang inventaris yang dicuri antara lain kipas angin, peralatan poliklinik gigi, dan kursi duduk di ruang tunggu pasien," kata Joni.

Dokter Joni bersama beberapa staf, ketika ditemui sedang mencat dinding penuh dengan tulisan itu. Di depan pintu Puskesmas ditulis "Maaf, puskesmas sedang direhab, Puskesmas dibuka kembali, Jumat (22/1), tertanda Kepala Puskesmas."

Bagian dinding luar Puskesmas dicoret dengan berbagai kata hinaan dan hujatan terhadap dokter, disertai istilah perjuangan politik Fretelin. Papan pengumuman dan jadwal pelayanan di Puskesmas itu dicabut. Ketika melempari rumah dokter, mereka juga melontarkan kata-kata "ingin membunuh dokter". Masyarakat orang Timtim di sekitarnya bertindak seolah-olah tidak ada aksi teror itu.

Simon Ola, penghuni rumah tetangga Puskesmas, mengatakan ia tahu ada aksi tersebut tetapi takut menegur atau menenteramkan anak-anak muda itu. Biasanya kaum muda dalam kondisi emosional selalu melakukan pelampiasan kepada siapa saja yang berupaya menghalangi keinginan mereka. Kasus tersebut sudah dilaporkan kepada Kepala Desa Comoro Vitorino do Santos, dan kades itu meneruskan laporan itu ke atasannya. Namun sampai saat ini, tidak ada tindak lanjut di lapangan, padahal Puskesmas sangat membutuhkan keamanan bekerja.

Apabila aksi ini terus berlanjut, Puskesmas Comoro ditutup seterusnya. Ketika kasus ini dilaporkan ke Dinas Kesehatan tidak ada tanggapan serius  termasuk dari Pemda setempat.  (kor)



Kasus terkait Tragedi Mei 1998;:


Isu terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 454 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org