Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
EDITORIAL: Selamat Jalan Munir

Sumber: Media Indonesia | Tgl terbit: Rabu, 08 September 2004
MUNIR meninggal dunia dalam perjalanannya menuju Belanda. Aktivis hak asasi manusia (HAM) ini berpulang karena diduga akibat serangan jantung, tiga jam sebelum mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda, kemarin. Almarhum terbang ke Belanda untuk melanjutkan studi.

Itulah berita duka yang sungguh amat mengagetkan kita di Tanah Air. Kita berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas berpulangnya orang yang memiliki keberanian yang luar biasa itu.

Kita kehilangan seorang anak manusia yang tidak pernah lelah memperjuangkan HAM dan demokrasi. Kita menundukkan kepala sebagai rasa hormat yang setinggi-tingginya atas perjuangan almarhum.

Kita kagum kepada pria bertubuh kecil dengan nyali besar itu. Kita kagum dengan keberaniannya yang berkobar-kobar melawan 'bahaya' kekuasaan model Orde Baru yang bak monster. Kita hormat karena komitmen dan idealisme almarhum untuk memperjuangkan masyarakat sipil tetap kukuh.

Munir muncul dan berani menentang militerisme justru ketika penguasa yang militeristik itu masih amat kukuh berkuasa. Ia akhirnya kita kenal sebagai suara yang berteriak nyaring setiap ada praktik kekerasan yang dilakukan negara terhadap warga sipil. Dan, ia menjadi ikon yang tidak tergantikan di republik ini dalam menentang kekuasaan yang militeristik itu.

Itu semua seperti kita tahu dari banyak cerita, Munir menghadapi risiko yang tidak kecil. Intimidasi, ancaman pembunuhan, dan rupa-rupa teror menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hari-hari sang pejuang HAM ini.

Jika mau, Munir pastilah bisa menikmati hidup nyaman dengan fasilitas melimpah. Tentu saja dengan syarat ia mau menghentikan seluruh aktivitasnya dan memilih jalan aman dengan kekuasaan. Tetapi, ia memilih jalan terjal dan hidup penuh sahaja.

Benar kata orang bijak, tidak ada keberanian yang sia-sia di dunia, tetapi keberanian menentang kekuasaan yang otoriter bukanlah milik orang biasa. Sebab, ia bukan perkara mudah. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai keluarga luar biasa juga. Sebab, teror dan intimidasi bisanya tidak kalah gencar juga ditujukan kepada anggota keluarga: orang tua, anak, istri, dan saudara sang aktivis.

Kita harus akui secara jujur, salah satu buah perjuangan Munir adalah reformasi yang kita rasakan ini. Betapa pun reformasi masih sering menjadi olok-olok, tetapi kita tidak bisa membantah berkah kebebasan berbicara dan meluruhnya peran militer dalam kekuasaan negara. Militer, setidaknya, tidak lagi menjadi kekuatan yang menakutkan lagi bagi bangsa ini.

Pada akhirnya, kita hanya bisa mengucapkan selamat jalan, Munir. Selamat menghadap Sang Khalik. Sebab, kita tidak berkuasa atas kematian siapa pun.

Kita hanya bisa bertanya, kenapa Tuhan terlalu cepat memanggil pulang orang-orang terbaik yang kita punya?


Isu terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 993 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org