Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
APARAT TIDAK TANGGAP SOAL PEMBUNUHAN DI CIAMIS

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Sabtu, 24 April 1999

Jakarta, Kompas
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menilai kasus pembunuhan berantai di Ciamis adalah kasus pembunuhan terencana. Berkembangnya pembunuhan orang-orang yang diduga "dukun santet" itu tidak terlepas dari dukungan dana dari pihak-pihak tertentu dan ketidaktanggapan aparat keamanan. Walaupun banyak warga telah melaporkan kasus tersebut ke Polsek atau Koramil setempat, bahkan pada beberapa kasus ada sejumlah aparat keamanan yang melihat proses kejadian, namun aparat keamanan terkesan enggan mengusut.

Hal itu disampaikan Koordinator Badan Pekerja Kontras, Munir, Jumat (23/4), di Jakarta, menanggapi perkembangan kasus pembunuhan berantai di selatan Ciamis, Jawa Barat.

Oleh karena itu, Kontras menuntut Kepolisian RI (Polri) untuk melakukan pengusutan dan klarifikasi atas ketidaktanggapan aparat terhadap laporan masyarakat dan peristiwa yang seharusnya sudah diketahui dalam praktik pembantaian tersebut. "Polri harus mengusut tuntas motif dan jaringan yang berada di balik operasi pembantaian, yang diduga mensponsori pembantai dalam operasinya," jelas Munir.

Kontras juga meminta aparat kepolisian segera memulihkan rasa aman masyarakat di wilayah di mana pembantaian berlangsung, dengan melakukan tindakan riil, baik langkah-langkah hukum maupun menghentikan berbagai tindakan teror yang masih mengancam masyarakat. Tindakan tersebut diharapkan mampu menghidupkan kepercayaan masyarakat atas keseriusan Polri dalam menangani kasus tersebut.

Di sisi lain, tambah Munir, Kontras juga menyesalkan pernyataan Pangdam III Siliwangi Mayjen  Purwadi yang menyebutkan, Kodam telah mengetahui peristiwa tersebut sejak awal, akan tetapi tidak dapat menyampaikannya karena belum ada klarifikasi yang jelas.

"Pernyataan tersebut mengesankan, permasalahan coba digiring ke arah seolah-olah apabila korban dalam jumlah sedikit maka Kodam tidak terlibat dan tidak harus dipersalahkan. Namun, pernyataan itu sekaligus menunjukkan aparat keamanan setempat tampaknya telah mengetahui sejak awal, akan tetapi tidak melakukan langkah-langkah penanggulangan," ungkap pimpinan Kontras itu.
 
Dua tim
Berdasarkan hasil investigasi tim Kontras, menurut Munir, rangkaian pembunuhan di wilayah Ciamis diawali dari dua peristiwa. Kasus pertama terjadi bulan November 1998 yang berawal dari alasan dendam seorang pemuda Desa Pagar Gunung pada "dukun santet" yang diduga telah membunuh keluarganya. Kasus kedua berawal dari pelarangan seorang "dukun santet" terhadap acara sesajen penduduk desa Pagar Gunung yang berujung pengeroyokan terhadap dukun tersebut.

Ia menguraikan, di dalam melakukan aksinya hingga saat ini operasi "dukun santet" terbagi menjadi dua tim. Tim pertama dipimpin S, berpusat di Desa Pagar Gunung dengan pengikut yang direkrut dari sejumlah desa, antara lain Cikembulan, Cijulang. Tim kedua dipimpin Su, berpusat di Desa Ciokong yang juga punya banyak pengikut.

Dalam operasinya, menurut temuan Kontras, selalu ada kelompok penggerak dan kelompok massa. Kelompok penggerak adalah kelompok yang bertugas mengkoordinir proses pembunuhan. Masyarakat menduga mereka adalah orang-orang yang pernah mengikuti latihan kemiliteran di gunung-gunung. Sedangkan kelompok massa terdiri dari mereka yang terlibat karena tawaran sejumlah uang yang besarnya Rp 100.000-Rp 200.000. Kendati demikian, ada juga massa yang terlibat karena dipaksa.

Proses pembunuhan dilakukan dengan mengindentifikasi korban-korban yang akan dibunuh. Menurut beberapa kesaksian warga, mereka yang akan di-identifikasi sebagai sasaran, pada awalnya adalah mereka yang "diidentifikasi" sebagai "dukun santet". Akan tetapi, karena tidak ada tindakan aparat, sasaran semakin bervariasi. Ada juga korbanyang dukun pengobatan tradisional, dukun beranak yang bisa melakukan pengguguran kandungan, orang kaya dan sombong, dan mereka yang dianggap menjelek-jelekkan mantan pejabat tinggi.

Biasanya setelah diidentifikasi, kelompok penggerak dan massa datang ke rumah korban. Kelompok penggerak masuk ke dalam rumah, mengambil korban dengan cara menggedor-gedor pintu, sementara kelompok massa mengurung rumah korban. Kelompok massa pun memerintahkan rumah-rumah di sekitarnya untuk mematikan lampu agar para tetangga tidak dapat melihat proses penculikan dan pembunuhan korban. Setelah korban diduga meninggal, mayatnya dibuang ke Sungai Ciwayang dengan menggunakan kendaraan bak terbuka.

"Walaupun kelompok tersebut berusaha bermain 'bersih' ternyata tak sedikit masyarakat yang telah melaporkannya kepada aparat keamanan setempat, baik polisi maupun Koramil sejak bulan Januari 1999. Bahkan dalam beberapa operasi pembunuhan, aparat keamanan telah bertemu dengan iringan kendaraan yang membawa korban dan tidak melakukan apa-apa. Ketidaktanggapan aparat ini yang secara tidak langsung memberikan legitimasi bagi kelompok terkait untuk terus bergerak hingga bulan April tahun ini," ungkap Munir. (oki)     



Kasus terkait Tragedi Mei 1998;:


Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 377 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org