Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Hidupnya Dihabiskan untuk Membela Hak Asasi Manusia

Sumber: Media Indonesia | Tgl terbit: Rabu, 08 September 2004
MANUSIA mati meninggalkan nama besar. Pepatah itu menjadi nyata ketika tokoh aktivis perjuangan hak asasi manusia (HAM), Munir, kemarin dipanggil menghadap sang khalik di usia yang belum mencapai 40 tahun.

Pejuang HAM berambut kemerahan yang kerap dipanggil "cak" (panggilan akrab di Jawa Timur) itu lahir 8 Desember 1965 di Malang, Jawa Timur. Kepergian Cak Munir yang hendak mengikuti seminar di Kota Leiden sambil mengurus beasiswa S-2 yang diperolehnya di Inggris (British Achievening Awards), meninggalkan seorang istri Suciwati, dan seorang anak bernama Sultan Alif Allende.

Munir menghabiskan waktu studinya di Kota Malang. Mulai dari SD Muhammadiyah Batu (1972), SMP Negeri I Batu (1979), SMA Negeri Batu (1982), hingga Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang (1985).

Aktivis HAM yang juga mendapatkan gelar Man of The Year dari majalah Ummat ini, memulai kariernya sebagai staf LBH Malang tahun 1991. Tahun 1992 Munir pindah ke Surabaya menjadi Koordinator Divisi Perburuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH, setahun kemudian ia naik menjadi Ketua Bidang Operasional LBH Surabaya sampai 1995.

Tahun 1996 ia diangkat menjadi Direktur LBH Semarang. Di tahun yang sama, Munir meneruskan kariernya ke Jakarta dengan menjadi Sekretaris Bidang Operasional Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Kemudian, pada 16 April 1996, Munir menjadi salah seorang pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) serta menjadi Koordinator Badan Pekerja di LSM ini. Sebelum mundur dari Kontras, ia sempat menjadi ketua dewan pengurus. Terakhir dia menjabat Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia (Imparsial).

Atas pengabdiannya di bidang kemanusiaan itu, Oktober 1999 ia dinobatkan majalah Asiaweek sebagai salah satu dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru. Tahun 1998, Munir menerima penghargaan Yap Thiam Hien. Selain itu, suami dari Suciwati ini juga mendapatkan Right Livelihood Award 2000 dari Yayasan the Right Livelihood Award Jakob von Uexkull, Stockholm, Swedia di bidang pemajuan HAM dan kontrol sipil terhadap militer di Indonesia.

Kegiatan Cak Munir juga adalah seorang sosok kontroversi bagi pihak penguasa. Ancaman demi ancaman sudah kerap dihadapinya, karena kegiatan dirinya, atau Kontras yang didirikannya. Bahkan pada 30 Agustus 2003, sebuah ledakan terjadi di rumahnya di Jalan Cendana XII No 12 Perumahan Jaka Permai, Bekasi.

Kegiatan Cak Munir memang tidak terlepas dari mengkritisi pihak penguasa. Nama Cak Munir, atau Kontras, memang tidak terlepas dari advokasi terhadap korban tindak kekerasan atau penculikan, yang terjadi pada kasus Tanjung Priok atau kasus yang terjadi menjelang dan selama masa reformasi 1998.

Pada 28 Mei 2003, ratusan pemuda yang menggunakan seragam loreng Pemuda Panca Marga (PPM) menyerbu kantor Kontras karena dinilai terlalu memihak ke Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam kasus pelanggaran HAM di Aceh. Para pemuda itu juga sempat melukai beberapa aktivis Kontras.

Bahkan, mantan Panglima Komando Operasi (Pangkoops) Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) Aceh Bambang Darmono sempat mempertanyakan Kontras. "Apa itu Kontras, Imparsial. Orang Takengon juga tidak tahu apa itu. Kita di sini ingin menegakkan hukum, kok malah mereka sewot. Apa urusannya," katanya (27/6).

Kemudian, pada September 2003, Kontras juga melakukan penelusuran terhadap raibnya 13 orang pengurus masjid di sejumlah daerah di Jakarta, Jawa Tengah, dan Sumatra. (Hnr/P-3)


Kasus terkait Tragedi Mei 1998;:


Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 657 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org