Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
MUNIR, "TOKOH 1998" VERSI "UMMAT"

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Selasa, 29 Desember 1998

Jakarta, Kompas
Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) Munir-tokoh yang mengungkap kasus penculikan sejumlah aktivis-dinobatkan sebagai "Tokoh 1998" versi Majalah Ummat. Munir berada di peringkat teratas di antara sejumlah nominator kuat lainnya, antara lain Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, dan mahasiswa reformis.

Pengumuman penobatan Munir dilakukan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Ummat Syafi'i Anwar, Senin (28/12) di Jakarta. Penghargaan dan trofi diserahkan langsung Pemimpin Umum Abdillah Toha, setelah Dewan Juri melakukan penilaian selama 1,5 bulan terhadap tokoh bersangkutan.

Menurut Syafi'i, penilaian terhadap "Tokoh 1998" dibagi tiga tahap. Pada tahap pertama, terjaring Gus Dur, Amien Rais ("Tokoh 1997"), Munir, dan sejumlah tokoh lainnya. Tahap kedua tinggal Gus Dur, Amien Rais, dan Munir. Sedang tahap ketiga akhirnya terpilih Munir.

"Kami memilih sosok tokoh yang memiliki kepedulian melawan politik kekerasan. Keberaniannya dilandasi keberpihakannya kepada ide dan visi kemanusiaan universal, yang menurut pengakuannya sendiri disemai oleh ajaran agama yang diyakininya. Dengan dasar pandangan itulah pilihan kami jatuh kepada Munir," papar Syafi'i dalam acara yang dihadiri puluhan wartawan.

Tujuan Ummat memilih pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965, kata Syafi'i, sekadar mengingatkan masyarakat bahwa di Indonesia masih ada orang yang dengan keberanian luar biasa melakukan perlawanan terhadap praktik politik kekerasan. Munir antara lain telah berjasa melakukan perlawanan terhadap politik kekerasan oleh negara (state violence), terutama kekerasan dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang dilakukan aparat militer.

"Ketika orang masih ragu, sungkan, dan bahkan takut bicara tentang keterlibatan militer dalam kasus penculikan mahasiswa dan aktivis politik lainnya, Munir bicara lantang mengungkapkan fakta dan kebenaran. Tanpa ragu ia menyingkap berbagai praktik kekejian dan penistaan harkat dan martabat kemanusiaan sejumlah anak bangsa yang seharusnya dilindungi negara," kata Syafi'i.

Kritikan
Munir, alumnus Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, yang beberapa pekan sebelumnya menerima penghargaan Yap Thiam Hiem mengatakan, anugerah yang diterimanya sebagai sesuatu yang sangat berharga. Namun penghargaan itu diakuinya telah menakutkan diri dan keluarganya.

"Saya sungguh takut karena khawatir penghargaan dan ketenaran ini menyebabkan saya tidak mampu mengontrol diri hingga menjadi manusia yang congkak," kata Munir yang hadir bersama Suciwati, istrinya, dan putranya yang masih berusia tiga bulan, Alif. Munir juga menyatakan terima kasih kepada istrinya yang telah mendorong perjuangannya itu.

Meskipun demikian, Munir yang kini menjabat Kepala Divisi Operasional YLBHI Jakarta, tidak lepas dari berbagai kritik. Mereka yang mengritiknya antara lain Sekjen Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Hussein Umar, mantan Komandan Pusat Polisi Militer ABRI Mayjen TNI Syamsu Djalaluddin, dan artis Eva Arnaz. Kritikan mereka termuat dalam Ummat edisi terbaru yang sampul depannya memuat Munir sebagai "Tokoh 1998".

Kritikan paling pedas datang dari Eva Arnaz, artis yang kehilangan suaminya (Deddy Hamdun) karena peristiwa penculikan. Eva menilai, apa yang dilakukan dirinya lebih dari sekadar yang dilakukan Munir dengan Kontras-nya. Bahkan ketika ditanya komentarnya mengenai perjuangan Munir, Eva mengatakan, "Capek. Nggak ada ujung pangkalnya, nggak ada hasilnya." (pep/oki)



Kasus terkait Tragedi Mei 1998;:


Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 733 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org