Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
FARIDA ARIANI DAN KORBAN PERKOSAAN

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Jumat, 21 Agustus 1998

PERJUANGAN untuk pemulihan nasib kaum wanita yang kehilangan suami, diperkosa, serta anak-anak yatim piatu yang kehilangan orangtuanya akibat tindak kekerasan di Aceh pada kurun waktu 1990-1998, mulai dirintis Farida Ariani sejak dua tahun lalu.

Awalnya, Sarjana pertanian jurusan budidaya pertanahan Fakultas Pertanian, Universitas Iskandarmuda Banda Aceh ini membina belasan janda korban kekejaman oknum keamanan di Desa Cot Keng, Kecamatan Bandar Dua Kabupaten Pidie yang kini populer dijuluki "Bukit Janda".

Mengapa "Bukit Janda" yang dipilih Farida? Karena desa ini tak jauh dari kota kelahirannya Ulee Glee, kota kecamatan Bandar Dua, kurang lebih 175 km timur Banda Aceh. Antara 1990-1993, wanita ini sering mendengar letusan-letusan senjata waktu malam. Paginya ia mendengar ada mayat manusia tergeletak di jalan-jalan desa.

Saat itu yang terpikir oleh Farida, kapan pembunuhan atas diri orang-orang desa yang sebagian besar petani miskin itu akan berhenti? Dan mengapa justru orang lemah ini yang jadi sasaran? Saat itu Farida merasa kasihan pada istri-istri yang suaminya telah

terbunuh. Mereka tidak hanya kehilangan suami, ayah, tetapi juga kehilangan tempat dalam pergaulan masyarakat. Siapa pula yang akan memberi makan dan merawat anak-anak yatim itu?

Jangankan kawin lagi, untuk berkomunikasi saja para janda itu sulit karena mereka dicap sebagai keluarga GPK-Aceh yang membuat orang se-Aceh takut setengah mati kalau dituding dengan kata singkatan tiga huruf itu.

Jenderal TNI Wiranto ketika berada di Lhokseumawe saat mengumumkan pencabutan kegiatan operasi militer dan memerintahkan penarikan personel ABRI non-organik Aceh kembali ke kesatuan masing-masing, telah "mengha-ramkan" kata GPK dikaitkan dengan nama Aceh.

Ucapan Jenderal Wiranto itu amat mendukung tugas-tugas Farida membangkitkan keberanian para janda atau wanita korban tindak kekerasan dan pemerkosaan untuk mengadukan masalahnya kepada Forum Peduli HAM dan LBH.

Pikiran untuk membantu wanita yang tertindas oleh berbagai kasus pelanggaran HAM itu, menghantui Farida terus-menerus. Dan akhirnya ia nekat menemui para janda korban "perang" yang tak kelihatan itu dan berbicara dari hati ke hati dengan mereka.

Farida mengaku pernah membicarakannya dengan aparat kecamatan setempat, tapi tak ada yang mau peduli. Lalu ia menceritakan itu kepada teman-temannya di Banda Aceh, termasuk kepada dosennya, Ir Abdul Gani Nurdin. Dosen inilah akhirnya yang peduli dan mengajak Farida membentuk Yadesa sebuah yayasan yang mencari dana untuk wanita dan anak-anak desa korban tindak kekerasan di Bukit Janda.

Bantuan yang lumayan besarnya datang dari sebuah yayasan di Australia, cukup untuk membangun sebuah sekolah TK (taman kanak-kanak), pengadaan sumur dan bak air minum, beberapa mesin jahit dan sarana kursus jahit-menjahit beserta tempat memproduksi berbagai kerajinannya. Hasilnya bisa dijual untuk membiayai kehidupan bagi para janda. Tapi proyek jahit-menjahit ini tidak berjalan lancar, karena omsetnya kecil.

***

PEREMPUAN tidak selamanya makhluk lemah. Setidaknya telah dibuktikan oleh Farida Ariani. Dari misi sosial-ekonomi untuk pemulihan para janda dan anak-anak korban kekerasan di Bukit Janda ini, Farida pun bergabung dengan Forum Peduli HAM Banda Aceh yang jangkauannya mencakup masalah pelanggaran HAM terhadap orang-orang sipil yang terjadi di Propinsi Aceh.

Di Forum Peduli HAM ini Farida menunjukkan keberaniannya melakukan investigasi, konseling, perlindungan dan pendampingan terhadap korban yang dilakukannya sendirian meski ada puluhan relawan mahasiswa-mahasiswi Aceh yang siap membantu.

Ia menghabiskan waktu berhari-hari masuk ke desa terpencil. Sifat kewanitaannya dengan segera membuat wanita-wanita desa korban berbagai bentuk tindak kekerasan termasuk penyiksaan dan pemerkosaan, membuka semua pengalaman buruk yang menimpa mereka.

Farida pula yang membawa ke Jakarta tiga wanita korban kekerasan yang diperkosa dan suaminya dibunuh atau hilang untuk mengadukan kekejaman oknum aparat kepada Ketua DPA, Komnas HAM, Kontras, dan Mabes POM ABRI di Jakarta. Ia tak peduli lagi pada teror lewat telepon setelah mengungkapkan kasus-kasus itu. Bahkan Farida mengaku setiap bergerak ada yang membayanginya.

Tindakan Farida itu cepat dapat simpati masyarakat dan membangkitkan keberanian wanita-wanita yang telah mengalami peristiwa buruk. Di desa-desa di Kabupaten Pidie, wanita-wanita korban pemerkosaan tidak akan pernah mau membicarakan "kasus aib" itu kalau bukan dengan Farida. "Mereka bicara dengan bahasa ibu dan hanya kepada saya mereka membicarakannya secara terbuka bagaimana perkosaan terjadi," tutur Farida.

Hampir semua wanita korban pemerkosaan menuturkan kembali peristiwa itu sambil menangis dan dengan suara terputus-putus. Umumnya mereka bingung, kepada siapa mereka bisa minta pertolongan? Wanita-wanita korban itu tahu, tak seorang lelaki di desanya berani melawan oknum-oknum kejam pemerkosa itu.

Dari belasan kasus yang ditemui, terungkap ada yang dilakukan oleh oknum setelah suami mereka ditangkap. Ada bahkan yang dilakukan di hadapan suami atau anak. Bahkan yang paling keji, Farida mengaku mendengar dari sejumlah korban di Desa Cot Baroh, Kecamatan Bandar, Baru Kabupaten Pidie, malam hari tahanan lelaki dan wanita

ditelanjangi dan duduk mengelilingi ruangan di sebuah kamp penyiksaan terkenal di dekat Sigli. Oknum pemeriksa menunjuk beberapa lelaki untuk "bermain cinta" dengan wanita sesama tahanan, dan oknum-oknum pemeriksa menonton pertunjukan porno itu.


Jika menolak, lelaki maupun wanita pasti dimasukkan ke bilik pemeriksaan yang di dalamnya terdapat kabel-kabel listrik penyiksaan bertegangan 220 volt! Para tahanan tahu betul kalau masuk ke bilik pemeriksaan itu pasti akan disetrum. Karena takut, wanita membiarkan saja lelaki sesama tahanan mengerjai dirinya untuk memuaskan oknum-oknum pemeriksa mereka.

Farida juga amat terenyuh ketika seorang gadis remaja menceritakan bagaimana oknum pemeriksa menelanjanginya secara paksa dan kemudian memasukkan pisang ke dalam alat vitalnya. "Bukankah itu peristiwa paling keji? Itulah yang dialami oleh belasan wanita di Aceh," tutur Farida dan mengatakan beberapa korban sanggup membuktikan peristiwa itu.

Berapa jumlah korban tindak kekerasan terhadap wanita di Aceh? Yang terliput baru belasan kasus. Namun ia yakin, jumlah korban tindak kekerasan dan pelanggaran HAM di Aceh, jumlahnya ratusan.

***

LAHIR di Ulee Glee Bandar Dua Kabupaten Pidie, 15 Januari 1966. Farida adalah putri M Daud Bugis, seorang camat dan ibunya bernama Fatimah. Kedua orangtuanya ini amat gundah dan khawatir ketika tahu Farida bergabung dengan Forum Peduli HAM dan terakhir menampung pengaduan korban-korban pelanggaran HAM, perkosaan dan berbagai tindak kekerasan terhadap wanita.

Sekolah SD dan SMP dilaluinya di Ulee Glee, dan SMA lulus tahun 1985 di Banda Aceh dan tahun itu juga Farida melanjutkan studinya di Fakultas Pertanian, Universitas Iskandarmuda Banda Aceh dan meraih kesarjanaannya tahun 1991. Setelah itu Farida mendapat pekerjaan sebagai tenaga honorarium di Proyek Konservasi Tanah Departemen Kehutanan di Sigli.

Wanita pemberani ini mengaku tidak mencari apa-apa dalam hidup. Kalau sekarang ia bergerak dalam tugas kemanusiaan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita yang ditindas oleh berbagai aksi kekerasan, itu dilakukannya tanpa pamrih, demi kemanusiaan. Yang ingin ditunjukkannya kepada dunia adalah kebenaran. Karena kebenaran dan keadilan bukan kebutuhan beberapa orang saja, tapi merupakan kebutuhan universal untuk semua orang.

Dan kebenaran serta keadilan itulah yang sekarang memberi harapan bagi seluruh wanita di Aceh. Selama ini mereka telah menjadi korban, takut dan malu. Mereka tak tahu harus mengadu ke mana. Tapi sekarang, setidaknya ada Farida tempat mereka berbicara dan mengadukan nasibnya. (basri daham)



Kasus terkait Tragedi Mei 1998;:


Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 525 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org