Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Herman Hendrawan Tiba di Jakarta "BIARLAH SAYA SENDIRI YANG TAHU"

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Sabtu, 08 Agustus 1998

Jakarta, Kompas
Pemuda yang mengaku berasal dari Tasikmalaya bernama Herman Hendrawan, akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia tiba di Jakarta, Jumat (7/8), pukul 20.15 WIB, dengan menggunakan pesawat Bouraq langsung dari Davao, Filipina. Ia diantar Konsul Jenderal (Konjen) RI di Davao, Asmardi Arbi. Namun, Herman yang juga korban

penculikan masih enggan bercerita banyak. "Biarlah saya sendiri yang mengetahui dan merasakan apa yang saya rasakan," ucapnya.

Kepada Kompas yang menemani perjalanan Herman kembali ke Indonesia, lelaki berkumis tipis, berkacamata dengan kulit agak putih tersebut sering mengungkapkan rasa was-wasnya begitu memasuki wilayah Indonesia.

Ketika pesawat singgah di Bandara Sam Ratulangi Manado dan Bandara Juanda Surabaya, Herman menyatakan keengganannya untuk keluar dari pesawat. Namun karena diharuskan keluar dari pesawat, ia pun keluar pesawat. Ia duduk di ruang tunggu bandara dan "menyepi" agak menjauh dari penumpang lainnya.

"Perasaan saya mengisyaratkan keadaan belum aman betul. Perasaan saya itu kuat," ungkapnya sambil menambahkan bahwa dirinya menjadi korban penculikan justru karena mengabaikan perasaannya itu.

Dalam percakapan dalam bahasa Sunda dengan Kompas, ia menyatakan belum yakin keadaan telah benar-benar berubah meskipun di sana-sini disebut-sebut soal reformasi. "Soal perasaan seseorang hanya orang itu sendiri yang tahu. Jadi kalaupun disebut-sebut reformasi, siapa yang tahu betul mereka sudah berubah," jelas Herman.

Mengenai kepulangannya ke Indonesia, pemuda yang mengaku terakhir berkuliah di Universitas Parahyangan, Bandung itu, mengemukakan, pada dasarnya ia adalah orang yang tidak tega meninggalkan orangtuanya lama-lama. Perjalanan ke Davao itu adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri sekaligus perjalanan pertamanya ke luar pulau Jawa. Kepulangannya ke Indonesia bukan karena paksaan siapa pun.

Ketika ditanya lebih jauh apakah akan segera pulang menemui orangtuanya, Herman menjawab, akan memikirkan dulu hal itu. Namun yang pasti, dia menyatakan masih perlu waktu untuk benar-benar menenangkan diri. "Mungkin saya akan tinggal di teman-teman dulu," ungkapnya sambil mengatakan bahwa dari Konjen RI Davao dia sempat menelepon orangtuanya.

Bukan salah culik
Meski dia memang bukan Herman Hendrawan yang dicari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), pemuda yang dalam pengakuan kepada Konjen RI di Davao mengaku diculik di Tanjungpriok, Jakarta, sekitar akhir Februari 1998 itu mengatakan bahwa dia memang korban penculikan. Di sisi lain, ia juga ragu kalau penculikan terhadap dirinya dilakukan karena kesalahan mengenali korban.

"Sepertinya apa yang saya alami itu ada kaitannya dengan apa yang saya sampaikan," ungkap Herman yang masih sulit sekali untuk bercerita panjang lebar. Ia pun menolak untuk diambil gambarnya.

Seringkali dia tampak ingin bercerita lebih panjang, namun di tengah jalan kata-kata dari mulutnya tidak dia lanjutkan. Jika sudah demikian, kata-kata berikutnya yang keluar dari mulutnya adalah, "Nantilah, pikiran saya sampai sekarang benar-benar semrawut."

Herman yang sebelum ke Davao sempat singgah di Pontianak dan Manado menjumpai teman-temannya sekaligus mendapatkan bekal uang dari mereka, menambahkan, dia masih sangat trauma dengan apa yang telah dialaminya. Dia juga teringat kejadian serupa yang menimpa anggota keluarganya yang lain, yang sampai saat ini kadang membuat saudaranya itu melakukan suatu perbuatan yang tidak normal.

Herman mengatakan tidak menyangka keberadaannya di Konsulat RI Davao akan tersiar ke mana-mana, karena dia sendiri sesungguhnya ingin apa yang terjadi atas dirinya tidak diketahui orang banyak. "Biarlah saya sendiri yang mengetahui dan merasakan apa yang saya rasakan," katanya.

Dia mengakui beberapa keterangan yang sudah dia berikan kepada Marlinus dan keluarga Tagoriri tidak sepenuhnya betul. Sebab, dia belum siap untuk ditanya-tanya sehingga ketika ada pertanyaan mengenai dirinya, dia menjawab pertanyaan itu menurut apa yang ada dalam pikirannya pada saat itu. Misalnya soal bagaimana dia masuk Davao. (oki)



Kasus terkait Tragedi Mei 1998;:


Wilayah terkait:


Dilihat : 425 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org