Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
PUSPOM ABRI TEMUKAN TIGA MAYAT DI KEPULAUAN SERIBU

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Kamis, 06 Agustus 1998

PUSPOM ABRI TEMUKAN TIGA MAYAT DI KEPULAUAN SERIBU
\* Di Lampung Makam Dibongkar

Jakarta, Kompas
Komandan Pusat Polisi Militer (Puspom) ABRI, Mayjen TNI Syamsu Djalaludin mengatakan, tim penyidik dari Puspom telah menemukan tiga mayat tak dikenal di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, sebelah utara Jakarta. Ketiga mayat tersebut kini masih dalam pemeriksaan Puspom bersama tim dokter forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Hal itu diungkapkan Syamsu kepada pers di Markas Puspom ABRI Jakarta, Rabu (5/8). Diungkapkan, Puspom ABRI menerima laporan adanya penemuan mayat tak dikenal dari masyarakat setempat tanggal 30 Juli 1998. Berdasarkan laporan itu, Puspom langsung menindaklanjuti dengan mengirim 15 penyidik pada 2 Agustus 1998 bersama tim dokter forensik dari RSCM.

Ditambahkan, masyarakat menemukan mayat tak dikenal itu pada tanggal 17 Mei 1998 dan langsung dikuburkan oleh masyarakat. "Di sana ada kebiasaan, kalau bukan warga dari kepulauan sana, jenazah langsung dikuburkan dan tidak diumumkan," kata Syamsu.

Ia meminta, penemuan mayat di Kepulauan Seribu ini jangan dikaitkan langsung dengan penemuan mayat di Lampung. "Kesimpulan sementara belum ada. Belum waktunya. Kalau sudah, saya panggil," katanya. Namun Syamsu juga mengingatkan, jika ditemukan mayat yang identitasnya tidak jelas segera melapor kepada aparat kepolisian.

Menurut salah satu anggota tim RSCM, dua mayat pria tidak dikenal ditemukan di pantai Pulau Untung Jawa, 17 Mei 1998. Sementara satu mayat lainnya ditemukan di pantai Pulau Rambut yang terletak di sebelah barat Pulau Untung Jawa. Oleh warga, ketiga mayat tersebut kemudian dimakamkan bersamaan dalam sebuah makam di Pulau Untung Jawa.

Ditemukan harmonika
Salah seorang dokter tim forensik RSCM, dr Zulhasmar Syamsu ketika dihubungi Kompas Rabu malam, mengatakan, penggalian tiga mayat yang ditemukan di Pulau Untung Jawa, dilakukan 4 Agustus 1998 pukul 14.00 WIB bersama masyarakat dan aparat keamanan.

Menurut Zulhasmar, ciri-ciri ketiga mayat tersebut berkelamin laki-laki dan berusia di atas 25 tahun. Dari ketiga mayat yang ditemukan, ada yang tidak berpakaian, berpakaian celana jeans biru, dan satu mayat yang bercelana panjang cokelat dan celana pendek biru.

Selain itu, ditemukan juga dua jam tangan, dua dompet berwarna cokelat dan biru, dan sebuah harmonika kecil warna merah pada kantung celana pada salah satu mayat.

Barang-barang yang ditemukan bagian forensik RSCM tersebut kemudian dibawa seorang perwira Puspom ABRI, Letnan Satu CPM Kemas Achmad Yani, Rabu kemarin sekitar pukul 13.00 WIB, ke Puspom ABRI.

Zulhasmar menjelaskan, identifikasi mayat akan dilakukan secara lebih detil hari Kamis (6/8) ini untuk melihat apakah ada tanda-tanda bekas penganiayaan. "Identifikasi akan dilihat melalui tulang karena dari jaringan lunak sudah agak sulit," tegasnya. Menurut dia, identifikasi secara detil itu meliputi tengkorak, gigi, dan bagian tubuh penting seperti tangan dan kaki.

Sudah mengetahui
Sementara itu, Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Munir mengatakan, penemuan mayat di Kepulauan Seribu tersebut sudah diterima Kontras sekitar sebulan lalu dari masyarakat. Namun Kontras belum menelusurinya, karena tidak menemukan kejelasan informasi dan lokasi.

Kontras, lanjut Munir, juga sudah mencek ke RSCM dan menemukan beberapa barang, seperti jam tangan dan dompet yang akan dikonsultasikan kepada para keluarga korban kasus orang hilang yang belum kembali. Sehubungan itu, lanjutnya, Puspom ABRI diharapkan mampu mengidentifikasi ketiga mayat tersebut sebaik mungkin, sehingga bisa

dijelaskan apakah ketiganya ada kaitannya dengan kasus penculikan.

Dibongkar
Sementara itu dari Bandarlampung dilaporkan, Tim dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kemarin membongkar kuburan tak dikenal di tepi Way (Sungai) Umpu, Desa Blambangan Umpu (230 km dari Bandarlampung).

Hasil otopsi menunjukkan mayat berjenis kelamin pria, umur antara 23-30 tahun, dengan tinggi berkisar 155 - 160 cm. Kuburan digali pukul 10.55 WIB oleh enam warga setempat, disaksikan lebih 150 warga desa setempat. Pada pukul 11.14 WIB mayat

berhasil diangkat dan langsung diotopsi di sisi kuburan oleh dr Budi Sampurna dari FK UI dan Letkol (Pol) Slamet Poernomo SPF, pakar forensik dari Puslabfor Mabes Polri.

Setelah melakukan otopsi pada pukul 12.20 WIB, Slamet Poernomo kepada wartawan mengatakan, pihaknya untuk sementara hanya bisa mengenali beberapa ciri fisik. "Jenis kelaminnya pria, usia berkisar 23-30 tahun dan tinggi antara 155 - 160 cm," katanya.

Kedua ahli forensik itu juga menyebutkan, bahwa rahang bawah mayat tersebut tidak ditemukan di dalam kuburan. Tujuh gigi pada rahang atas depan telah rontok dan belum diketahui pasti penyebab kerontokan itu. Gigi geraham kanan atas belakang berlubang, diduga kuat akibat sakit gigi sejak lama.

"Sedang karang gigi terlihat melingkar hitam di sekitar masing-masing delapan biji gigi yang ada. Kami belum menemukan fakta lain, tetapi kami akan terus mengembangkan pemeriksaan laboratoris di Jakarta," kata Slamet.

Demi pemeriksaan lebih lanjut, seperti untuk mengetahui DNA atau golongan darah serta fakta lain, tim membawa sepotong tulang rusuk dan sepotong gigi ke Jakarta. "Kami belum dapat memastikan apakah ada tanda-tanda penganiayaan atau tidak," kata Slamet.

Mayat yang dibongkar dari kuburnya ini 18 Juli lalu ditemukan terapung di Way Umpu oleh Supri, warga Desa Blambangan Umpu. Pada tanggal yang sama, Supri dibantu beberapa warga sekitar menguburkan mayat itu di tepi sungai.

Mayat-mayat
Penemuan mayat di Lampung itu menggemparkan terutama karena sebelumnya diinformasikan bahwa warga setempat menemukan 14 mayat terapung di sungai yang sama. Tim pencari fakta dari Polda Lampung menyatakan bahwa penemuan 14 mayat itu hanyalah rumor belaka. Diakui hanya ada satu mayat, yang Rabu kemarin diotopsi tim dari Jakarta.

Sementara itu, laporan penemuan mayat yang semula dianggap rumor, akhirnya menjadi fakta baru setelah dua orang warga, masing-masing Iberahim dan Tohir melaporkan bahwa mereka sempat melihat dan memegang mayat yang mengapung di Way Umpu pada 6 Juli. Mereka tidak menguburkan mayat itu, tetapi langsung mendorongnya ke tengah arus sungai.

"Mayat itu berjenis kelamin pria, memakai kaos putih dan celana dalam warna cokelat," kata Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Lampung Utara, Letkol (Pol) PL Tobing mengutip laporan Iberahim.

Mayat yang ditemukan Iberahim dan Tohir agak ke hulu dari mayat yang ditemukan Supri. Sedang Hendra, alumni Fisipol Universitas Lampung, warga setempat, mengaku melihat dua mayat, agak ke hilir dari mayat yang sudah dikuburkan Supri.

Hendra melihat mayat pada 13 Juli pukul 17.30 WIB, dalam jarak 20 meter. Mayat pertama telentang, mengenakan baju putih dan celana panjang abu-abu. Mayat kedua mengenakan baju dan celana warna biru. Namun ia mengaku tidak memegang mayat tersebut. (cal/nn/bb)



Kasus terkait Tragedi Mei 1998;:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 644 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org