Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
LBH TELITI INFORMASI PENEMUAN14 MAYAT DI WAY UMPU

Sumber: KOMPAS | Tgl terbit: Sabtu, 01 Agustus 1998

Jakarta, Kompas
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung masih meneliti informasi yang menyebutkan ditemukannya 14 mayat terapung di aliran Way (Sungai) Umpu, desa Rantau Kijang, Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Lampung Utara (Lampung). Bersamaan, muncul pula kabar, mayat-mayat tersebut adalah aktivis mahasiswa yang menjadi korban penculikan.

"LBH Bandarlampung serius mencari kebenaran informasi penemuan belasan mayat di Way Umpu, Lampung Utara tersebut. Setelah dua kali investigasi di lapangan, memang ada yang melihat sejumlah mayat terapung di sungai. Berapa jumlahnya, sejauh ini belum bisa dipastikan. Tapi, yang jelas masyarakat setempat memang mengaku pernah melihat lebih dari satu mayat terapung dan hanyut di aliran sungai tersebut," ungkap Watoni Nurdin, Kepala Divisi Pertanahan dan Lingkungan, LBH Bandarlampung, menjawab Kompas, Jumat (31/7).

Selain tim investigasi dari LBH Bandarlampung, Komite untuk orang hilang dan korban kekerasan (Kontras) Jakarta pun menaruh perhatian terhadap informasi tersebut. Sebagai tindak lanjut, Kontras Jakarta mengirim dua anggotanya ke Lampung Utara, yakni Viktor Da Costa dan Chepy Hendrawan. Bersama LBH Bandarlampung, dua personel Kontras ini melakukan investigasi selama dua hari, Selasa dan Rabu (28-29/7) lalu.

Menurut Watoni, tim dari kedua lembaga itu telah menelusuri aliran sungai Umpu dan mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi mata yang mengaku melihat langsung mayat-mayat terapung tersebut. Informasi pun dikumpulkan dari warga yang tinggal di pinggiran sungai, para kepala desa dan Kapolsek Blambangan Umpu. "Dari investigasi lapangan, bisa disimpulkan bahwa memang ada yang melihat sejumlah mayat mengambang di Way Umpu dalam dua pekan terakhir. Tentang jumlah mayat itu memang tidak bisa dipastikan, tapi yang jelas sesuai keterangan jumlahnya memang lebih dari satu dan itu pun semuanya mayat laki-laki," kata Watoni.

Ditegaskannya, meski lebih dari satu mayat, tim investigasi LBH dan Kontras hanya menemukan satu kuburan. Jasad yang dikuburkan itu adalah seorang laki-laki dewasa yang identitasnya tidak diketahui. Dilukiskan, kondisi mayat sangat mengenaskan, karena beberapa bagian anggota tubuhnya tidak lengkap lagi. "LBH curiga mayat itu sengaja dibuang dan jati dirinya pun dikaburkan. Sebab, ada bagian raganya yang seolah sengaja dihilangkan, seperti telapak tangan, bagian muka, gigi dan lain-lain," ungkapnya.

Tentang isu yang mengkaitkan mayat-mayat terapung di Way Umpu ada hubungan dengan aktivis korban penculikan, secara tegas Watoni menyatakan, bahwa sejauh ini LBH tidak bisa menyimpulkannya. "Itu hanya opini yang berkembang di masyarakat, dan kita tidak mau berspekulasi. Kendati demikian, informasi penemuan mayat tersebut

tetap akan ditindaklanjuti dan disosialisasikan. Termasuk meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut," katanya. (zul)



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Dilihat : 347 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org