Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document

Kirim Kartu Posmu untuk Selamatkan Yusman Telaumbanua Dan Rasula Hia dari Eksekusi Mati

Yusman Telaumbanua adalah seorang remaja putus sekolah dari pelosok Nias yang baru berusia sekitar 16 tahun saat dirinya beserta kakak iparnya, Rasula Hia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan berencana pada bulan April 2012. Keduanya kemudian divonis dengan hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Gunungsitoli, Nias setahun kemudian. Keduanya tidak mengajukan upaya hukum apapun saat itu karena tidak seorang pun (termasuk kuasa hukumnya) memberitahu hak-haknya untuk mengajukan upaya hukum banding dan sebagainya.

Pada tahun 2016, Yusman secara resmi mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung RI sejak kasusnya didampingi oleh kuasa hukum dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Pengajuan PK ini didasari adanya bukti baru atau novum yaitu hasil pemeriksaan forensik gigi yang dilakukan Tim Dokter dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran (UNPAD), Bandung terhadap Yusman Telaumbanua yang dilakukan pada 17 November 2015. Hasil pemeriksaan forensik terhadap struktur gigi dan tulang tangan kiri Yusman tersebut menyimpulkan bahwa Yusman masih berusia 18,4 – 18,5 tahun saat pemeriksaan dilakukan. Dengan demikian, jika ditarik mundur dengan tahun peristiwa terjadinya tindak pidana yakni tahun 2012, maka usia Yusman saat itu masih 15,4 – 15,5 tahun atau berusia 16 tahun saat vonis hukuman mati dijatuhkan. Berdasarkan UU, usia tersebut termasuk dalam kategori anak sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1 UU Perlindungan Anak.

Upaya Peninjauan Kembali (PK) atas putusan vonis pidana mati terhadap Yusman Telaumbanua membuahkan hasil. Pada 31 Januari 2017, Mahkamah Agung telah mengoreksi vonis hukuman mati Yusman dengan mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan Yusman Telaumbanua dan KontraS selaku kuasa hukumnya sehingga Yusman akhirnya tidak dihukum mati. Berdasarkan petikan putusan yang telah diperoleh dari MA, memutuskan: mengabulkan PK Yusman; membatalkan putusan PN Gunungsitoli nomor 08/Pid.B/2013/PN-GS, tgl 22 Mei 2013. “Menyatakan Yusman bersalah melakukan tindak pidana “turut serta melakukan pembunuhan berencana,” dan menjatuhkan pidana terhadap terpidana selama 5 tahun dikurangi masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani.

Kabar terbaru yang diterima KontraS, Yusman akan bebas tepat di hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, 17 Agustus 2017. Selain merupakan kabar gembira karena akhirnya Yusman bisa pulang, ini juga merupakan momentum untuk menggalang dukungan bagi Yusman yang sebentar lagi akan kembali ke tengah-tengah keluarganya, dan kita semua.

Untuk itu, KontraS mengajak teman-teman untuk menuliskan pesanmu untuk Yusman, cetak dan segera kirimkan kartu pos di bawah ini!




Klik pada gambar untuk mengunduh gambar
[Cetak pada kedua sisi dengan kertas foto berukuran 14.8cm x 10.5cm]
[Kirimkan ke alamat kantor KontraS di JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Kode Pos 10420]

Kartu pos yang kamu kirim, akan kami sampaikan secara langsung kepada Yusman!


Yusman membacakan putusan terhadap dirinya, setelah sebelumnya tidak bisa membaca dan berbahasa Indonesia saat pertama kali ditemui oleh KontraS



Selengkapnya tentang kasus yang menimpa Yusman Telaumbanua dan Rasula Hia:

Peristiwa yang mengantarkan Yusman dan Rasula hingga divonis hukuman mati ini bermula dari rencana pembelian hewan tokek. Jimmi, majikan tempat Yusman bekerja di Medan tengah mencari hewan tokek yang saat itu dianggap bisa mendatangkan keberuntungan. Yusman menyarankan Jimmi untuk membeli tokek dari kakak iparnya, Rasula Hia yang tinggal di kampung halamannya di Gunungsitoli, Nias dan memang memelihara beberapa ekor tokek. Pembicaraan tersebut tidak berlanjut lagi hingga akhirnya satu bulan kemudian yaitu tepatnya tanggal 17 April 2012, Yusman pamit pulang ke Nias untuk menjenguk ibunya yang sakit. Lima hari kemudian, Kolimarinus Zega yang merupakan kawan dari Jimmi menghubungi Yusman dan mengatakan bahwa dirinya bersama Jimmi dan beberapa orang lainnya akan datang ke Nias untuk melihat tokek milik Rasula Hia.

Pada hari yang telah ditentukan, Yusman pergi menjemput rombongan Kolimarinus Zega, Jimmi Trio Girsang dan Rugun Br Haloho yang telah menyewa mobil untuk bersama-sama pergi menuju rumah Rusula Hia. Namun di tengah jalan, Rasula menghubungi Yusman dan meminta mobil berhenti di Simpang Miga saja karena kendaraan roda empat tidak dapat masuk menuju Desa Hiliwaoyo, tempat kediaman Rasula. Sebagai gantinya, tetangga Rasula yang berprofesi sebagai tukang ojek bernama Ama Pasti Hia, Ama Pandi Hia, Amosi Hia, dan Jeni akan menjemput para tamu dengan sepeda motor.

Namun baik Yusman maupun Rasula tidak pernah mengetahui bahwa para tukang ojek tersebut sudah mempersiapkan parang dan pisau yang diselipkan di pinggangnya. Di perjalanan tersebut, salah seorang pelaku menelepon Rasula dan memintanya datang ke area kebun karena pembeli sudah berada disana. Saat Rasula datang, para pelaku sudah bersama Yusman dan para tamu. Namun kemudian salah satu pelaku langsung melakukan aksi kekerasan dengan membacok kepala Jimmi berulang kali hingga jatuh, lalu diikuti pelaku lainnya yang kemudian membacok leher dan menusuk paha Kolimarinus Zega dengan parang serta menusukkan pisau ke perut Rugun berkali-kali hingga para korban tewas. Sementara Rasula dan Yusman yang saat itu kebingungan dan takut, diancam pelaku untuk tidak menceritakan peristiwa pembacokan dan penusukan tersebut kepada siapapun atau akan dibunuh juga. Karena ketakutan atas ancaman tersebut, Yusman dan Rasula melarikan diri ke Riau. Pada September 2012, Yusman dan Rasula ditangkap oleh polisi dan langsung ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan berencana pada tahun 2012. Sementara para pelaku yang melakukan pembunuhan justru masih buron hingga hari ini.

Yusman dan Rasula Hia yang tidak dapat membaca dan tidak cakap berbahasa Indonesia mengikuti proses penyelidikan hingga pengadilan yang sarat akan kejanggalan. Kejanggalan yang paling jelas terlihat adalah usia Yusman yang masih di bawah umur saat ditetapkan sebagai tersangka dan divonis hukuman mati. Saat penyidikan, Yusman dan Rasula disiksa oleh anggota Polres Gunungsitoli untuk mengakui pembunuhan yang tidak pernah dilakukannya. Bukti dari penyiksaan tersebut dapat dilihat dari adanya bekas luka sepanjang 3 cm akibat pukulan balok kayu. Malang bagi Yusman yang saat itu masih berusia di bawah umur, penyidik Polres Gunungsitoli memaksanya mengakui bahwa umurnya sudah 19 tahun dengan iming-iming jika mengaku maka akan dilepaskan. Aparat penyidik juga enggan mencari bukti-bukti dan fakta-fakta lebih lanjut mengenai kasus tersebut. Padahal, tidak ada seorang saksi pun yang melihat yang menguatkan bahwa pembunuhan berencana tersebut dilakukan oleh Yusman dan Rasula. Sangat disayangkan, baik Yusman maupun Rasula juga tidak mendapatkan penterjemah bahasa Nias maupun kuasa hukum yang layak dan dapat membela hak-haknya. Siksaan demi siksaan bukan mengantarnya pada kebebasan, malah berujung pada vonis terberat, yaitu hukuman mati. Kuasa hukum yang mendampinginya di Pengadilan justru di muka persidangan meminta agar keduanya dihukum mati oleh Majelis Hakim. Dan pernyataan dari kuasa hukum itulah yang kemudian dijadikan pertimbangan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gunungsitoli yang kemudian memvonis keduanya dengan hukuman mati. Saat mendengar vonis hukuman mati itulah kondisi psikologis mereka terguncang. Sembari membentur-benturkan kepalanya ke dinding, mereka meminta maaf terus menerus.

Proses hukum yang cacat ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mencerabut hak-hak Yusman dan Rasula yang tidak bersalah atau setidak-tidaknya belum dapat dibuktikan keterlibatannya. Adanya rekayasa kasus yang dilakukan oleh aparat penegak hukum mulai dari praktik penyiksaan, ancaman untuk mengaku, rekayasa identitas hingga proses hukum yang dipaksakan mengakibatkan kerugian yang dialami keduanya bersifat menyeluruh. Terlebih, vonis hukuman mati yang dijatuhkan terhadap Yusman yang saat itu masih berusia 16 tahun telah melanggar aturan UU Sistem Peradilan Pidana Anak yang melarang dijatuhkannya hukuman mati bagi anak yang berusia di bawah 18 tahun (dibawah umur). Kasus ini sungguh memperlihatkan buruknya proses peradilan di Indonesia. Tanpa bukti yang kuat, orang yang belum terbukti bersalah pun bisa dihukum bahkan divonis mati.

Tepat pada 25 Juli 2016, Sidang Perdana Kasus Peninjauan Kembali Yusman Telaumbanua resmi dibuka dan disidangkan di PN Gunungsitoli, Nias dengan hanya dihadiri kuasa hukum Yusman. Pada sidang perdana ini, Yusman Telaumbanua selaku pemohon PK tidak hadir karena masih berada di Lapas Tangerang dan masih menunggu persetujuan Kementerian Hukum dan HAM serta Kanwil untuk dapat dipindahkan sementara ke Lapas Gunungsitoli, Nias guna mengikuti sidang Peninjauan Kembali di PN Gunungsitoli, Nias.

Baru pada 15 Agustus 2016, sidang kembali dilanjutkan dengan kehadiran pemohon PK, Yusman Telaumbanua. Kuasa Hukum yang mendampingi Yusman pada saat itu kemudian membacakan Memori Peninjauan Kembali di hadapan sidang. Pada sidang yang sama, JPU juga langsung membacakan kontra memori PK. Sidang kemudian ditunda hingga 2 minggu ke depan dengan agenda pemeriksaan saksi, yang akan menghadirkan saksi ahli dokter forensik radiologi gigi yang melakukan pemeriksaan terhadap usia Yusman.

Sidang dilanjutkan pada tanggal 29 Agustus 2016 dengan agenda pemeriksaan saksi ahli, drg. Fahmi Oscandar, M.Kes, Sp.RKG (Ketua Tim Dokter Forensik Radiologi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Bandung) yang menjelaskan secara detil proses penentuan usia pasti Yusman dengan cara melakukan pemeriksaan atas struktur gigi dan tulang Yusman. Dalam persidangan ini, saksi ahli menjelaskan secara rinci analisa atas pemeriksaan terhadap Yusman yang dilakukan Tim Dokter pada 17 November 2015.Pada pemeriksaan tersebut, dilakukan 4 metode untuk menentukan estimasi usia Yusman, yaitu melalui MetodeAl Qahtani (dental), Metode Van Heerden (dental), Metode Schaeffer (sinus paranasal) dan Metode Grelich-Pyle, dengan tingkat keakuratan mencapai 95%. Saksi ahli juga menjelaskan bahwa tahap awal pemeriksaan Yusman hingga sampai pada kesimpulan memakan waktu 2 hari, hingga akhirnya diketahui bahwa estimasi usia saat dilakukan pemeriksaan forensik radiologi gigi pada tanggal 17 November 2015 adalah 18,4 – 18,5 tahun. Dengan demikian, usia Yusman pada saat vonis mati dijatuhkan pada Mei 2013 (atau 2 tahun sebelum dilakukannya pemeriksaan forensik) adalah 16,4 – 16,5 tahun.

Menurut UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, definisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usia Yusman saat divonis mati masih di bawah umur.Setelah agenda pemeriksaan saksi ahli, persidangan kemudian diakhiri dengan penandatanganan Berita Acara Persidangan oleh pemohon Peninjauan Kembali, kuasa hukum, termohon PK (Jaksa Penuntut Umum) dan Ketiga Majelis Hakim Sidang Yusman. Berita Acara Persidangan yang telah ditandatangani tersebut kemudian dikirimkan oleh PN Gunungsitoli ke Mahkamah Agung untuk dilanjutkan pemeriksaannya dan diputus.

Pada 31 Januari 2017, Mahkamah Agung (MA) mengeluarkan Petikan Putusan Nomor 96 PK/PID/2016 yang pada intinya mengabulkan permohonan PK Yusman Telaumbanua dan membatalkan putusan PN Gunungsitoli Nomor 08/Pid.B/2013/PN-GS, tanggal 21 Mei 2013. Dengan adanya putusan dari Mahkamah Agung (MA) tersebut, MA telah menganulir vonis hukuman mati terhadap Yusman dengan menjadi vonis selama 5 tahun pidana penjara atas tindakan “turut serta melakukan pembunuhan berencana”. Namun hingga saat ini baik Yusman maupun kuasa hukumnya, KontraS masih belum mendapatkan salinan putusan resmi dari Mahkamah Agung (MA) untuk mengetahui apa yang menjadi dasar pertimbangan Majelis Hakim MA yang telah mengkoreksi vonis hukuman mati terhadap Yusman.

Namun pembatalan vonis hukuman mati terhadap Yusman ini membuktikan bahwa sudah saatnya sistem peradilan di Indonesia harus dikoreksi dan dievaluasi, karena terbukti telah mengadili seseorang secara sewenang-wenang dan tidak fair. Kasus Yusman diyakini bukanlah satu-satunya kasus yang mana seorang terpidana mati telah diadili melalui proses hukum yang tidak fair. Bahkan banyak diantaranya yang telah dieksekusi mati meski diketahui terdapat kejanggalan dalam proses hukumnya.Kasus pembatalan vonis hukuman mati terhadap Yusman oleh MA harus dijadikan acuan bagi Negara untuk mengevaluasi seluruh vonis hukuman mati yang dijatuhkan terhadap para terpidana mati di Indonesia.

Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org