Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Penyerang Cebongan Bisa Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana

Sumber: JOGJA.OKEZONE.COM | Tgl terbit: Selasa, 30 Juli 2013

JAKARTA - Kordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Haris Azhar mendesak Oditurat Militer II-11 Yogyakarta untuk teliti dalam mengumpulkan fakta-fakta persidangan sebagai dasar tuntutan kepada terdakwa pelaku pembunuhan empat tahanan di Lapas Cebongan, Yogyakarta.

Kata Haris, berdasarkan pemantauan yang dilakukan KontraS, dari pemeriksaan saksi-saksi yang memakan waktu kurang lebih empat pekan atau setidak-tidaknya telah menghadirkan 50 saksi a charge (memberatkan) serta lima saksi a de charge (meringankan), di mana dua diantaranya saksi ahli dalam berkas dakwaan Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto, dan Koptu Kodik.

"Dari banyak kesaksian tersebut terdapat banyak fakta-fakta hukum yang menggambarkan perencanaan dan pembagian peran dalam kejahatan Cebongan," katanya saat jumpa pers di kantor Kontras, Jakarta Pusat, Selasa (30/7/2013).

Maka, sambung Haris, sudah sepatusnya Oditurat militer bisa melakukan tuntutan dengan mengacu pada kesaksian-kesaksian tersebut dan konsisten pada dakwaan awal adanya tindak pidana pembunuhan berencana yang disertai dengan tindakan kekerasan dan perusakan sesuai dengan pasal 340 juncto 55 serta pasal 170 KHUP.

Fakta-fakta yang muncul dipersidangan dijelaskan Haris, di antaranya, pengakuan Ikhmawan Soeprapto yang menggunakan penutup muka (sebo) dalam melakukan tindak pidana karena terinspirasi oleh Detasemen 88 sebagaimana berdasarkan surat dakwaan para terdakwa yakni masuk Lapas dengan mengelabui penjaga dengan mengatakan dari Polda Yogyakarta.

"Kemudian pengakuan terdakwa Tri Juwanto, dari CCTV dan rekorder yang dibawa dari LP Cebongan, dibakar di asrama tepatnya di lapangan tembak bersama Anjar Rahmanto, Soeprapto, dan Roberto, lalu dibuang ke sungai Bengawan Solo," tukasnya.

Selain itu, pengakuan kepala Lapas Cebongan, Sukamto Harto, disebutkan kalau peristiwa begitu cepat, rapi, dan sunyi, serta terjadi hanya dalam waktu 15menit dan mengakibatkan 4 orang tewas.

Lalu, pengakuan pegawai Lapas, Widyatmana yang mengatakan dianiaya penyeranga hingga empat giginya rusak. Pengakuan Kepala keamanan Lapas Margo Utomo, mengenai surat berkop Polri yang digunakan Serda Ucok Tigor Simbolon untuk mengelabui penjaga. Di dalam kop tersebut jelas ada logo Tribrata Polri. Pengakuan pegawai Lapas Agus Murjanta, yang mengaku ada perkataan penyerang kalau berasal dari Polda dan mau menghajar tahanan.

Terakhir pengakuan pegawai Lapas lainnya, Indrawan, dia sempat mendengar percakapan kalau penyerang mencaroi CCTV dan kunci.

Atas hal itu, selain meminta Oditiurat mengumpulkan bukti-bukti persidangan agar bisa menjawa unsur pasal yang didakwakan, Kontras juga meminta agar para pelaku diberi hukuman setimpal disertai upaya pemenuhan hak korban, namun Kontras menolak dilakukan hukuman mati.

Sebagaimana diketahui, sidang kasus penyerangan Lapas Cebongan akan memasuki agenda pembacaan tuntutan.



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 2,161 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org