Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Penyerang Lapas Cebongan Diancam Hukuman Mati

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID | Tgl terbit: Jumat, 21 Juni 2013

YOGYAKARTA - Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta mulai menggelar persidangan kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Kamis (20/6). Terdakwa yang berperan sebagai eksekutor dijerat pasal berlapis mengenai pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati.

Para terdakwa merupakan 12 anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan Kartosuro. Oditur atau jaksa dalam peradilan militer mendakwa 12 terdakwa kasus penyerangan Lapas Cebongan dalam berkas berbeda.

Dalam sidang yang dipimpin Letkol Chk Dr Joko Sasmito, oditur menyatakan Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto, dan Koptu Kodik, melakukan pembunuhan berencana bersama-sama. Terdakwa Ucok merupakan eksekutor dalam kasus penyerbuan LP Cebongan yang menewaskan empat tahanan titipan Polda DIY.

Karena itu, ketiganya dijerat dengan dakwaan primer Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman mati. Ketiganya juga didakwa dengan dua dakwaan subsider karena telah melakukan pembunuhan dan penganiayaan berat secara bersama-sama.

Terdakwa dalam dua berkas lainnya juga dijerat pasal serupa, yaitu pembunuhan berencana. Namun, terdakwa yang lain memiliki peran yang berbeda. Berkas kedua dengan terdakwa Sersan Satu Tri Juwanto, Sersan Satu Anjar Rahmanto, Sersan Satu Marthinus Roberto Paulus, Sersan Satu Herman Siswoyo, dan Sersan Satu Suprapto. Berkas ketiga, yaitu Sersan Dua Ikhmawan Suprapto.

Sedangkan berkas keempat berisi dakwaan dengan terdakwa Sersan Mayor Rokhmadi, Sersan Mayor Muhammad Zaenuri, dan Sersan Kepala Sutar. Mereka dijerat Pasal 121 ayat (1) KUHP Militer jo 55 (1) ke-1 KUHP. Ketiganya diduga tidak menaati perintah atasan.

Seusai pembacaan dakwaan, majelis hakim kemudian memberi kesempatan kepada ketiga terdakwa untuk menanggapi isi dakwaan. Penasihat hukum para terdakwa Letkol (Chk) Yaya Supriadi menyatakan akan mengajukan eksepsi atau nota pembelaan.

?Ada hal-hal yang perlu diluruskan terkait fakta-fakta yang dibacakan tadi. Akan sangat berpengaruh dalam kesimpulannya nanti," kata Supriadi. Sidang akan kembali digelar dengan agenda pembacaan eksepsi pada Senin (24/6).

Aksi penembakan terhadap tahanan titipan Polda DIY bermula dari kasus pengeroyokan Serka Heru Santosa, anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan, hingga tewas. Tiga hari setelah Serka Heru meninggal atau 23 Maret 2013, sejumlah 12 orang mendatangi Lapas Cebongan untuk mengeksekusi empat tersangka itu.

Korban yang tewas, yaitu Hendrik Benyamin Angel Sahetapi alias Diki Ambon (31 tahun), Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33), Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu alias Adi (29), Yohanes Juan Manbait alias Juan (38).

Persidangan militer para terdakwa penyerangan Lapas Cebongan berlangsung ketat dengan penjagaan dari TNI dan Brimob Podla DIY. Jalan jalur lambat untuk sepeda motor di Ring Road Timur Yogyakarta, tepatnya di depan pengadilan, ditutup.

Persidangan juga diwarnai dengan aksi unjuk rasa puluhan orang dari Aliansi Masyarakat Sipil. Mereka berharap persidangan para terdakwa bebas dari intervensi kelompok pejuang hak asasi manusia (HAM). Koordinator aksi Donny P Manurung mengatakan, aksi yang dilakukan anggota Kopassus karena aksi premanisme yang dilakukan para tersangka. ?Kami mendukung para prajurit Kopassus,? kata dia.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) berharap para terdakwa tidak dihukum mati demi perlindungan HAM. Karena itu, oditur diharapkan tidak menutut terdakwa dengan hukuman mati. ?Melainkan hukuman paling tinggi seumur hidup,? kata Koordinator Kontras Haris Azhar.

Haris juga mengkhawatirkan adanya dakwaan yang tidak adil dengan memisahkan dakwaan 12 terdakwa menjadi empat berkas. Pemisahan berkas hanya karena setiap terdakwa memiliki peran berbeda. ?Saya rasa tidak fair, mereka sama-sama punya motif membunuh, tapi nanti dakwaannya yang satu membunuh yang satu cuma merusak CCTV," kata dia.



Isu terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 1,685 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org