Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Istri Polisi Dipidana Suaminya
Kisah Wahyuti Mencari Akte Berujung Tudingan Mencuri Brankas

Sumber: detiknews.com | Tgl terbit: Kamis, 07 Oktober 2010

Indra Subagja - detikNews

Jakarta - Wahyuti Limiany Rahayu bukan tanpa sebab mengambil brankas di rumah dinas suaminya di Kompleks Polri di Pengadegan, Jaksel. Sudah 4 bulan dia berpisah rumah dengan suaminya Kombes Pol Purwolelono. Dia hanya bermaksud mencari akte kelahiran anaknya untuk sekolah.

"Tapi saya malah disangka mencuri dan merampok," kata Wahyuti saat dihubungi, Kamis (7/10/2010).

Wahyuti bertutur, sebenarnya dia dan suaminya sudah sejak lama tidak harmonis. Bahkan dia mengaku pernah melaporkan suaminya ke polisi atas dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Saat itu saya melapor ke Bareskrim Polri, kemudian disuruh lapor ke Polres Jaksel. Saya juga lapor ke Propam dan Polda Metro Jaya tapi tidak digubris," ujar Wahyuti.

4 Bulan lalu dia diusir suaminya dari rumah. Kini dia tinggal bersama 4 anaknya, yang tertua usia 13 tahun dan yang paling muda baru berusia 8 bulan, di sebuah apartemen di Jaksel. Mereka belum resmi cerai, suaminya hanya menjatuhkan talak secara agama saja.

"Saya melaporkan (ke polisi) dahulu tidak diproses, tapi saya dilaporkan karena mencuri langsung ditangkap," sesalnya.

Wahyuti pada Rabu (6/10) siang datang ke rumah yang ditinggali suaminya di Pengadegan. Di sana dia hendak mengambil akte kelahiran anaknya untuk keperluan sekolah. Karena dia tidak tahu kombinasi angka brankas tempat menyimpan dokumen yang dibutuhkan, dia pun membawa brankas itu. Namun apa yang terjadi, saat dia membawa pergi brankas itu, dia dilaporkan suaminya ke polisinya.

"Suami saya Kombes Purwolelono beralasan (brankas) itu punya temannya, Ardianto, padahal saya tahu brankas itu dibeli saat kami masih bersama," urainya.

Kemudian pada Rabu malam petugas dari Polda Metro Jaya menjemputnya. Dia diperiksa dan baru siang ini dibebaskan. "Polisi cepat menanggapi laporan suami saya, tapi laporan saya soal kekerasan rumah tangga tidak pernah diproses," urai Wahyuti.

Hal senada juga disampaikan pengacara Wahyuti dari Kontras, Edwin Partogi. Pihaknya sudah berkali-kali bertanya mengenai pengusutan kasus KDRT itu tetapi tidak ada tanggapan. "Sampai saat ini tidak jelas, padahal pelaporan sejak beberapa bulan lalu," urai Edwin.

Sementara itu Kombes Purwolelono yang dikonfirmasi lewat telepon selulernya, tidak memberikan jawaban. Di ujung telepon hanya terdengar suara wanita yang mengangkat telepon itu.

"Ini benar telepon Bapak, Bapaknya lagi sakit panas dalam. Saya bibinya (pembantu)," ujar wanita itu.

Sementara Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Boy Rafli Amar masih belum bisa memberikan komentar dalam kasus ini. "Saya belum tahu," katanya.

(ndr/nrl)



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 598 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org