Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
BERITA
Polres Garut Dilaporkan ke Komnas HAM

Sumber: tempointeraktif.com | Tgl terbit: Kamis, 04 Maret 2010

TEMPO Interaktif, Garut - Keluarga almarhum Elvan Suhelvan, 14 tahun, melaporkan Kepolisian Resort Garut, Jawa Barat, ke Komisi Hak Azasi Manusia dan Komisi Untuk Orang Hilang (Komnas HAM), dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Pengaduan itu, terkait lambatnya pengungkapan kasus kematian tiga warga Desa Cihuni, Kecamatan Pangatikan, yang terjadi pada 17 April 2009. Selain Elvan Suhelvan, 14 tahun, bin Asep Suhendar, korban lainnya yaitu Aris Firmansyah bin Asep Furkon, 18 tahun, Ade Abdul Fattah bin Apid, 20 tahun. “Kami sudah bosan menanyakan terus, tapi tida ada jawaban yang pasti,” ujar Asep Suhendar, 44 tahun, ayah Elvan, saat ditemui Tempo di kediamannya, Kamis (4/3).

Menurut dia, kematian anak keduannya itu, sebelumnya diduga akibat kecelakaan. Namun, pihak keluarga menemukan kejanggalan dan menyakini korban meninggal akibat dibunuh. Alasannya, luka yang dialami pada tubuh ketiga korban tidak memperlihatkan seperti kecelakaan. Bahkan di baju korban juga tidak menunjukan adanya bekas terjatuh dari motor.

Para korban rata-rata mengalami luka dari bagian dada sampai kepala. Almarhum Elvan mengalami luka memar dibagian dada berbentuk dua garis, dagu sobek dan terdapat luka benturan dibagian kepala. Almarhum Ade menderita luka dalam dibagian telinga, memar dibagian leher dan posisi lidah menjulur ke luar. Sedangkan Almarhum Aris, mengalami luka cukup parah dibagian pelipis kiri.

Sampai saat ini, tambah Asep, pihak kepolisian belum dapat memastikan kasus tersebut. Padahal penyidikan telah dilakukan sejak 28 April 2009 termasuk juga gelar perkara ditempat kejadian. Baru setelah dilaporkan ke Komnas HAM dan Kontras pada 22 Februari lalu, polisi melakukan gelar perkara kembali di Markas Polda Jawa Barat dan membongkar makam ketiga korban untuk dilakukan otopsi. “Kami hanya ingin keadilan,” ujarnya.

Anggota Komnas HAM, Nur Kholis, membenarkan, pihaknya telah menerima laporan pengaduan warga Garut. Laporan itu menyatakan bahwa anaknya meninggal secara tidak wajar dan diduga telah dibunuh. Namun, pihak kepolisian tidak memberikan jawaban yang puas. “Laporan diterima saya langsung, sekarang sedang melakukan pendalaman,” ujarnya saat dihubungi melalui telpon selulernya.

Kepala Kepolisian Resort Garut, Ajun Komisaris Besar Polisi Amur Chandra Juli Buana, membantah bila pihaknya lamban menangani kasus tersebut. Menurut dia, proses penyelidikan harus dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru. “Lebih baik kami melepaskan seribu orang yang bersalah dari pada menangkap satu orang yang tidak bersalah,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Amur mengaku, saat ini rangkaian penyelidikan masih terus dilakukan. Bahkan pihaknya telah melakukan pembongkaran makam ketiga korban pada 1 Maret kemarin, untuk dilakukan otopsi. Hasil penelitian ini baru akan diketahui seminggu kedepan. “Apakah kasus ini pembunuhan atau kecelakaan, tergantung hasil otopsi,” ujarnya.

Sementara itu, mengenai pengaduan keluarga korban kepada Komnas HAM dan Kontras, Amur menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Sigit Zulmunir



Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 723 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org