Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
SIARAN PERS
Surat Terbuka Kepada Kapolda Papua terkait Penembakan Timotius AP yang Memicu Kerusuhan di Manokwari Papua

Tgl terbit: Kamis, 13 Desember 2012

Hal :Surat Terbuka Kepada Kapolda Papua terkait Penembakan Timotius AP yang Memicu Kerusuhan di Manokwari Papua

Kepada Yth.
Kapolda Papua
Irjen Pol Tito Karnavian

Di-tempat

Dengan hormat,

KontraS mempertanyakan tindakan Kepolisian Resort Manokwari yang menyebabkan Timotius AP tewas di terjang peluru aparat pada tanggal 4 Desember 2012. Reaksi yang tidak diduga muncul sehari setelah peristiwa penembakan tersebut yaitu warga melakukan pemblokiran dan pembakaran di beberapa tempat di kota Manokwari.

Informasi yang KontraS dapatkan dalam peristiwa ini adalah:

Pada Tanggal 2 Desember 2012, korban Timotius AP pulang dari pulau Jawa ke Manokwari dengan ditemani istrinya, Iwanggin. Sepulang dari Jawa, korban jarang tinggal di rumah Wirsi. Korban lebih banyak di luar rumah karena korban masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam beberapa kasus yang menurut Polisi dilakukan oleh korban.

Pada tanggal, 4 Desember 2012, pagi hari hingga menjelang siang, Timotius AP sempat bergaul dengan beberapa teman-teman di Wirsi. Dia sempat meminta pinang dan makan pinang. Setelah itu pada siang harinya korban hilang dan sudah tidak diketahui oleh beberapa teman-temannya di Wirsi. Malam harinya, korban diketahui dirawat di Rumah Sakit Dr Azhari (Rumah Sakit Angkatan Laut) Manokwari. Informasi ini diterima oleh tante korban Nelestin AP melalui seorang kerabat keluarga korban.

Selanjutnya Nelestin bersama saudara korban yang lain bergegas menuju rumah sakit Angkatan Laut Dr Azhari. Namun dalam perjalanan, mereka melihat petugas Polisi dan medis yang sudah mengantar jenazah korban pulang ke rumah milik nenek korban dengan alamat Jalan Simponi Rindu, Wirsi, Manokwari Barat. Mereka langsung mengalihkan perjalanan ke rumah Nenek Timotius AP. Nenek korban berusia sekitar 70an tahun yang tinggal sendirian di rumah saat itu tidak mengetahui bahwa jenazah Timotius AP diantar petugas ke rumah. Apalagi tidak ada satu kalimat atau bahasa yang disampaikan oleh petugas yang mengantar jenazah kepada nenek korban. Petugas pengantar jenazah langsung pergi dari rumah meninggalkan peti jenazah dan korban begitu saja.

Beberapa menit kemudian, Nelestin dan beberapa kerabat korban yang lain berdatangan dan menangis histeris melihat jenazah korban yang hanya mengenakan celana pendek dan baju kaos oblong bersih yang baru dipakaikan ke korban. Jenazah menggunakan pakaian baru. Jenazah itu dibalut perban di sekujur dagu dan leher seakan korban terluka. Padahal tidak ada luka di dagu, leher dan kepala pada umumnya. Luka korban baru ditemukan di perut dekat pusar, nampak luka jahitan bekas operasi medis mengeluarkan proyektil.

Kabar tewasnya Timotius AP bahwa telah ditembak mati oleh Polisi tersebut telah memunculkan reaksi massa dengan melakukan aksi pemalangan jalan masuk ke Wirsi (jalan Simponi Rindu). Pemblokiran mulai meluas di beberapa ruas jalan kota Manokwari (5 Desember 2012).

Paska peristiwa, pertanggal 6 Desember 2012 Polda Papua mengeluarkan rilis terkait penembakan yang dilakukan pihak kepolisian terhadap Timotius AP. Dalam rilisnya dinyatakan bahwa penembakan dilakukan mengingat posisi petugas saat itu merasa terancam karena Timotius telah mengarahkan senjata api rakitan. Tembakan yang dilepaskan oleh petugas juga dengan maksud untuk melumpuhkan dimana saat itu mengenai pinggangnya.

Terhadap tewasnya Timotius AP tersebut, KontraS mencatat beberapa hal terkait adanya dugaan penyalahgunaan atas tindakan penggunaan kekuatan yang dilakukan oleh pihak aparat kepolisian di lapangan:

1. Bahwa tindakan petugas dilapangan tidak mengkedepankan prinsip-prinsp penggunaan kekuatan seperti diatur dalam pasal 3 Perkap Nomor 1 tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan oleh Polri yaitu poin c (Proporsionalitas yaitu bahwa penggunaan kekuatan harus dilaksanakan secara seimbang antara ancaman yang dihadapi dan tingkat kekuatan atau respon anggota polri, sehingga tidak menimbulkan kerugian/ korban/ penderitaan yang berlebihan); poin e (preventif yaitu bahwa tindakan kepolisian mengutamakan pencegahan) ; dan f (masuk akal yaitu bahwa tindakan kepolisian diambil dengan mempertimbangkan secara logis situasi dan kondisi dari ancaman atau perlawanan pelaku kejahatan terhadap petugas atau bahaya terhadap masyarakat). Hal ini terlihat pada adanya tindakan petugas di lapangan yaitu mengeluarkan tembakan yang bukan bertujuan melumpuhkan Timotius AP, tetapi justru menewaskan Timotius AP.

2. Bahwa dengan adanya kelalaian petugas di lapangan, tentunya petugas juga tidak memperhatikan lebih seksama dan mengkedepankan prinsip-prinsip yang diatur lebih lanjut pada UU Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, pasal 19 Ayat (1) menyebutkan bahwa Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa bertindak berdasarkan norma hukum dan mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan serta menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia'

3. Dari uraian tersebut tentunya ditemukan fakta yang mengarah pada adanya pelanggaran yang dilakukan petugas dilapangan terhadap Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara RI, khususnya Pasal 13: "Setiap Anggota Polri dilarang: e. menyalahgunakan kewenangan dalam melaksanakan tugas kedinasan"

Sehubungan dengan hal diatas, KontraS mendesak Kapolda Papua untuk melakukan penyelidikan atas adanya dugaan penyalahgunaan penggunaan kekuatan yang menyebabkan tewasnya Timotius AP oleh aparat kepolisian Resort Manokwari, Papua. Jikapun kemudian tindakan tersebut terbukti, maka kami meminta agar terhadap anggota tersebut dapat ditindak sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku. Pihak kepolisian daerah Papua juga harus memastikan terpenuhinya hak atas keadilan bagi korban pelanggaran HAM tersebut.

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.

Jakarta, 13 Desember 2012
Badan Pekerja,



Sri Suparyati, SH. LLM
Wakil I Koordinator

Tembusan Kepada Yth:
1. Ketua Komisi III DPR R
2. Kapolri
3. Wakapolri
4. Kadiv Propam Polri
5. Irwasum Mabes Polri
6. Kadiv Propam Polda Papua
7. Irwasda Polda Papua
8. Ketua Ombudsman RI
9. Ketua Kompolnas
10.Ketua Komnas HAM



Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 8,333 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org